Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah 0,14%

Rupiah - Jitunews.comRupiah - Jitunews.com

lagi-lagi harus rela terkubur di zona merah pada perdagangan Jumat (18/6) sore ketika isu seputar nilai tukar saat ini masih didominasi kejutan yang dibuat mengenai langkah kebijakan mereka. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.375 per AS.

Sejumlah mata uang di Benua Asia juga tidak kuasa melawan . Won Korea Selatan memimpin pelemahan setelah anjlok 0,26%, disusul ringgit Malaysia yang minus 0,06%, dan dolar Singapura yang terkoreksi tipis 0,02%. Sementara itu, yuan China dan baht Thailand terpantau stagnan, sedangkan dolar Hong Kong, yen Jepang, dan peso Filipina sama-sama menguat 0,02%.

“Rupiah masih akan tertekan pada transaksi hari ini karena isu-isu seputar nilai tukar belum ada perubahan,” tutur analis uang, Ariston Tjendra, pagi tadi, seperti dilansir dari CNN Indonesia. “Sentimen bagi mata uang Garuda masih berasal dari ekspektasi terhadap perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Hal ini menguatkan nilai tukar dolar AS dan melemahkan mata uang lain.”

Dari pasar global, dolar AS memang masih berada dekat minggu terbaiknya dalam hampir sembilan bulan pada hari Jumat, saat investor bergegas untuk memperkirakan akhir yang lebih cepat dari perkiraan untuk stimulus moneter AS yang setelah perubahan nada yang mengejutkan dari Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau hanya turun tipis 0,036 poin atau 0,04% ke level 91,853 pada pukul 11.23 WIB.

“The Fed mengirim pesan yang sangat penting, bahwa hari-hari likuiditas berlimpah dan tidak terbatas akan segera berakhir,” kata kepala strategi FX di Westpac di Sydney, Richard Franulovich, dikutip dari Reuters. “Mereka telah memberi tahu kita dalam bahasa yang sangat sederhana bahwa mereka telah memulai percakapan tentang cara memulai pengurangan.”

Guncangan telah dipicu oleh perkiraan The Fed yang menunjukkan bahwa 13 dari 18 orang dewan kebijakan melihat suku bunga naik pada 2023, dibandingkan hanya enam sebelumnya, dengan anggota dewan rata-rata memberi sinyal dua kenaikan pada 2023. Meski bukan komitmen dan memiliki rekam jejak yang buruk dalam memprediksi suku bunga, perubahan mendadak itu merupakan kejutan yang juga bergema melalui pasar obligasi dan logam.

Loading...