Akhir Pekan, Rupiah Bangkit ke Zona Hijau

Rupiah - www.kabarin.coRupiah - www.kabarin.co

JAKARTA – ternyata mampu merangsek ke teritori hijau pada Jumat (8/2) sore, ketika indeks AS terus bergerak menguat seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai . Menurut laporan Index pada pukul 15.31 WIB, Garuda menguat 18 poin atau 0,14% ke level Rp13.955 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.992 per dolar AS, terdepresiasi 14 poin atau 0,1% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.978 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,46% menghampiri baht Thailand.

Dari global, indeks dolar AS masih bertahan di dekat level tertinggi dua minggu pada hari Jumat, karena permintaan untuk aset safe haven sedang naik di tengah ketidakpastian tentang jalur negosiasi perdagangan AS dan China dan kekhawatiran yang lebih luas tentang perlambatan pertumbuhan global. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,072 poin atau 0,07% ke level 96,579 pada pukul 12.25 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, kekhawatiran mengenai pertumbuhan global muncul setelah Kamis (7/2) kemarin Komisi Eropa memotong perkiraan untuk pertumbuhan zona Eropa. Kekhawatiran investor tentang pertumbuhan global diperparah oleh komentar Presiden AS, Donald Trump, yang mengatakan dia tidak berencana bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, sebelum batas waktu 1 Maret untuk mencapai kesepakatan perdagangan.

“Laju indeks dolar AS didukung oleh kekhawatiran atas pertumbuhan global dan faktor eksternal,” tutur ahli strategi mata uang di Bank of Singapore, Sim Moh Siong. “Pasar saat ini sedang menunggu untuk melihat langkah-langkah kebijakan apa yang dapat menstabilkan pertumbuhan di seluruh dunia, dan sampai saat itu, sulit untuk melihat dolar AS bergerak melemah.”

Mata uang Paman Sam telah naik selama enam sesi berturut-turut. Hal ini terutama disebabkan oleh melemahnya nilai tukar euro, yang memiliki sekitar 58% bobot dalam indeks, meskipun Federal Reserve sebelumnya sempat melakukan perubahan kebijakan mengenai suku bunga pada pekan lalu. Mata uang tunggal Eropa tergelincir karena data pertumbuhan yang lebih lemah dari perkiraan dan prediksi bahwa European Central Bank akan menjaga kebijakan moneter yang akomodatif sepanjang tahun ini.

Loading...