Akhir November, Rupiah Melaju Mulus di Area Hijau

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

JAKARTA – Rupiah terus bergerak menguat pada Jumat (30/11) sore, memanfaatkan pelemahan yang dialami greenback jelang pertemuan Presiden AS dan Presiden China di sela-sela KTT G20. Menurut catatan Index pada pukul 15.58 WIB, spot menguat 81 poin atau 0,56% ke level Rp14.302 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.339 per dolar AS, menguat 69 poin atau 0,47% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.408 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas perkasa melawan greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,58% dialami rupiah, diikuti rupee India yang menguat 0,22%.

Dari global, greenback terpantau bergerak lebih rendah pada hari Jumat menjelang pertemuan dua pemimpin AS dan China, yang mungkin mengarah ke gencatan senjata perang perdagangan atau sebaliknya. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,020 poin atau 0,02% menuju level 96,758 pada pukul 11.03 WIB setelah kemarin sudah berakhir di zona merah.

Seperti diberitakan Reuters, sepanjang pekan ini, dolar AS telah berada di bawah tekanan, di tengah ekspektasi bahwa akan memperlambat laju pengetatan moneter, sebuah pandangan yang diperkuat oleh komentar terbaru Gubernur , Jerome Powell. Meski begitu, dolar AS tidak mengalami aksi jual dalam skala besar, sebagian karena ekonomi AS yang solid, ekonomi di lain yang melemah, dan status mata uang itu sebagai aset safe haven.

Untuk saat ini, fokus pasar tertuju pada pertemuan yang direncanakan antara Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires yang berlangsung 30 November hingga 1 Desember. Trump sendiri sudah mengirimkan beragam sinyal mengenai prospek untuk kesepakatan perdagangan kedua kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

“Jika terhadap impor dari China tetap di angka 10%, maka dolar AS kemungkinan akan melemah akibat meningkatnya minat terhadap aset berisiko,” papar chief operating officer Rakuten Securities, Nick Twidale. “Jika kita melihat gencatan senjata, dolar Australia dan dolar Selandia Baru akan berkinerja sangat baik. Kami melihat banyak kenaikan dalam persilangan seperti Aussie/yen Jepang yang akan mendapat manfaat dari risiko.”

Loading...