Akhir Juli, Rupiah Menguat Super Tipis Usai ‘Putusan Kecil’ Bank of Japan

Rupiah - www.jatengpos.comRupiah - www.jatengpos.com

mampu mempertahankan posisi di area hijau pada perdagangan Selasa (31/7) sore meski indeks AS bergerak lebih tinggi, setelah Bank of Japan hanya membuat perubahan ringan dalam rapat kebijakan mereka. Menurut Index pukul 15.20 WIB, mata uang NKRI terpantau menguat 1 poin atau 0,01% ke level Rp14.414 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup naik tipis 2 poin atau 0,01% di posisi Rp14.415 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (30/7) kemarin. Pagi tadi, mata uang Garuda mengawali di level stagnan. Sepanjang hari ini, pergerakan spot cenderung terbatas ketika indeks dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.413 per dolar AS, melemah 4 poin atau 0,03% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.409 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia terdepresiasi versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,22% dialami yen Jepang.

Dari pasar , indeks dolar AS terpantau menguat terhadap rekan-rekannya pada hari Selasa, setelah Bank of Japan hanya membuat perubahan kecil dalam rapat kebijakan mereka, alih-alih perubahan besar seperti yang telah diantisipasi pasar. Mata uang Paman Sam menguat tipis 0,018 poin atau 0,02% ke posisi 94,366 pada pukul 10.58 WIB setelah kemarin berakhir drop.

Dilansir CNBC, Bank of Japan pada hari ini mempertahankan kebijakan mereka, termasuk target jangka pendek di minus 0,1% dan target untuk imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun sekitar 0%. Meski demikian, bank sentral tersebut menuturkan bahwa imbal hasil ‘dapat naik atau turun sampai taraf tertentu’, tergantung pada perkembangan dalam aktivitas ekonomi dan .

Keputusan itu muncul setelah spekulasi pekan lalu bahwa Bank of Japan telah secara aktif membahas perubahan kebijakannya, yang menyebabkan harga obligasi pemerintah Negeri Sakura turun tajam, dan mendorong patokan imbal hasil 10-tahun mencapai level tertinggi dalam hampir enam bulan. Pihak bank juga mengakui bahwa akan dibutuhkan ‘lebih banyak waktu dari yang diharapkan’ untuk mencapai target inflasi 2%.

“Ini adalah perubahan kebijakan yang sangat kecil, tetapi vektor kebijakannya sedang menuju pengetatan. Pesan bank adalah untuk membiarkan imbal hasil jangka panjang menjadi lebih tinggi,” kata kepala ekonom di Tokai Tokyo Research Institute, Hiroaki Mutou. “Saya pikir, bank berhasil dalam menyesuaikan skema kebijakannya yang tidak terlalu berdampak pada pasar, tetapi memperkenalkan panduan untuk pengetatan di masa depan.”

Loading...