Yield US Treasury Anjlok, Rupiah Melaju 30 Poin di Pembukaan

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (23/11) dengan penguatan sebesar 30 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp 13.493 per AS. Sebelumnya, mata uang Garuda berakhir menguat 0,04 persen atau 6 poin ke level Rp 13.523 per USD usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.506 hingga Rp 13.528 per AS.

Indeks dolar AS terpantau melemah 0,66 persen menjadi 93,330 di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB. The Greenback dilaporkan melemah terhadap sejumlah mata uang utama usai yang baru dirilis menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa pesanan baru untuk -barang tahan lama manufaktur AS pada bulan Oktober 2017 mengalami penurunan USD 2,8 miliar atau 1,2 persen menjadi USD 236,0 miliar, lebih rendah dari perkiraan sebesar 0,4 persen.

Di sisi lain, juga sedang mencermati risalah pertemuan pada September yang baru saja dirilis. Dalam risalah pertemuan The Fed tersebut menunjukkan bahwa bank sentral AS kemungkinan bisa menaikkan suku bunga acuan 1 kali lagi tahun 2017 ini apabila perekonomian AS terus mengalami ekspansi moderat. Data inflasi yang rendah tahun ini juga menjadi perhatian bagi para pejabat The Fed.

Menurut Josua Pardede, Ekonom Bank Permata, kinerja rupiah berhasil menguat lantaran indeks dolar AS sedang melemah terhadap sejumlah mata uang utama akibat turunnya yield US Treasury. “Spread obligasi tenor 10 dan dua tahun cenderung makin tipis,” ujar Josua seperti dilansir Kontan.

Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa inflasi dan proteksi pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat masih belum pasti. Sentimen lain yang cukup menahan laju USD adalah perkembangan reformasi pajak yang masih belum jelas. Walaupun sudah disetujui kongres, rencana tersebut masih belum mendapat persetujuan dari senat.

Senada, Agus Pransuamitra, Analis Monex Investindo Futures mengatakan jika pidato Gubernur The Fed Janet Yellen pada Selasa (21/11) waktu setempat juga tak terlalu memberi suntikan bagi dolar As. “Pasar sudah yakin tingkat suku bunga akan naik, isu yang paling dinanti saat ini adalah kelanjutan reformasi pajak,” tandasnya.

Loading...