Yield Treasury AS Melorot, Rupiah Berakhir Menguat Tajam

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada perdagangan Rabu (3/3) sore, memanfaatkan pergerakan greenback yang mengambil posisi defensif karena imbal hasil Treasury AS berbalik melemah. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.54 WIB, Garuda ditutup menguat 80 poin atau 0,56% ke level Rp14.245 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menempatkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.334 per dolar AS, melemah 0,19% dari sebelumnya di level Rp14.307 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi dialami ringgit Malaysia dan pelemahan terdalam menghampiri peso Filipina.

Mata uang Benua Kuning bergerak mixed ketika indeks dolar AS mengambil posisi defensif pada hari Rabu, karena imbal hasil Treasury AS terus mengalami penurunan, memulihkan ketenangan di pasar global dan menyalakan kembali untuk aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau cuma menguat tipis 0,018 poin atau 0,02% ke level 90,803 pada pukul 11.11 WIB.

Seperti dilansir dari Reuters, obligasi telah menjadi pusat badai di pasar keuangan dalam beberapa pekan terakhir, menyusul lonjakan dramatis dalam imbal hasil secara global, yang bertentangan dengan desakan para gubernur bank sentral untuk menormalkan kebijakan moneter saat ekonomi pulih dari pandemi COVID-19. global terlempar dari dekat rekor tertinggi, sedangkan komoditas goyah.

Namun, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun berbalik turun, ditutup di level 1,3982% pada hari Selasa (2/3) waktu setempat setelah sempat mencapai posisi tertinggi satu tahun di 1,614% pada minggu lalu. Imbal hasil AS yang lebih rendah akhirnya melemahkan beberapa daya tarik dolar AS terhadap sesama mata uang berimbal hasil rendah, dengan yen dan franc Swiss memantul dari posisi terendah multi-bulan.

“Dinamika sentimen risiko secara umum saat ini menjadi pendorong utama mata uang,” terang ahli strategi mata uang senior di Barclays Capital yang berbasis di Tokyo, Shinichiro Kadota, seperti dikutip dari Reuters. “Reaksi pasar ekuitas akan menjadi salah satu penentu.”

Loading...