Yield Obligasi AS Sentuh Level Tertinggi, Rupiah Berakhir Negatif

rupiah18

Kenaikan imbal hasil AS yang sempat menyentuh level tertinggi membuat cenderung perkasa terhadap mata uang lainnya, termasuk . Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus mengalami pelemahan tipis sebesar 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.515 per AS pada akhir Kamis (19/10) ini.

Sebelumnya, pada penutupan dagang Rabu (18/10) kemarin, rupiah harus turun 6 poin atau 0,04% di posisi Rp13.513 per dolar AS. Kemudian, pagi tadi, mata uang Garuda bergerak stagnan ketika pembukaan transaksi. Setelah itu, spot cenderung bergerak ‘stabil’ di zona merah pada siang hari hingga penutupan perdagangan.

Dari , indeks dolar AS kembali bergerak positif pada transaksi hari ini menyusul kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi sejak bulan November 2008. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,014 poin atau 0,01% menuju posisi 93,377 pada pukul 11.03 WIB, melanjutkan tren penguatan yang sudah berlangsung sejak awal pekan kemarin.

Reuters melaporkan, kenaikan imbal hasil obligasi AS pekan ini membantu memberikan dukungan pada gerak greenback. Yield obligasi naik ke level tertinggi sejak bulan November 2008 lalu pada hari ini, didukung harapan akan pengetatan kebijakan moneter global. Imbal hasil obligasi AS dengan tenor 10 tahun sempat menyentuh posisi 2,352% sekaligus menjadi level tertinggi dalam satu minggu.

Saat ini, pasar global tengah fokus menantikan siapa yang akan ditunjuk untuk memimpin setelah masa jabatan Janet Yellen berakhir pada bulan Februari 2018 mendatang. Juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, mengatakan bahwa Presiden Donald Trump akan mengumumkan siapa Gubernur The Fed yang baru dalam beberapa hari mendatang.

Sejauh ini, ekonom Stanford University, Joh Taylor, muncul sebagai kandidat utama untuk kursi The Fed berikutnya. Taylor dikenal sebagai pendukung kebijakan moneter berbasis aturan dan menurutnya suku bunga AS harus jauh lebih tinggi dari target saat ini. “Jika Taylor terpilih, ini kemungkinan akan memicu penjualan obligasi AS, setidaknya dalam jangka pendek,” tutur analis pasar global di Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Satoshi Okagawa.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di level Rp13.521 per dolar AS, terdepresiasi 7 poin atau 0,05% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.514 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,32% dialami won Korea Selatan.

Loading...