Yield AS Terus Meroket, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (22/2) sore - katadata.co.id

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki cukup otot untuk bangkit ke zona positif pada Senin (22/2) sore ketika imbal hasil pemerintah AS terus naik dan sempat menuju posisi tertinggi. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 52,5 poin atau 0,37% ke level Rp14.117,5 per AS.

Sementara itu, menurut data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB, acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.908 per dolar AS, terdepresiasi 13 poin atau 0,09% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.085 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan greenback, menyisakan dolar Taiwan dan peso Filipina di area hijau.

Menurut analisis CNBC Indonesia, sentimen eksternal dan domestik membebani lajur rupiah. Dari luar negeri, terus memantau perkembangan imbal hasil () obligasi pemerintah AS yang naik 1,389% pada pukul 09.15 WIB, level tertinggi sejak 21 Februari 2020. Sementara, dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mencapai defisit 0,2 miliar dolar AS pada kuartal IV 2020.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya juga bergerak lebih rendah, sempat jatuh ke level terendah tiga tahun terhadap dolar Australia, karena kemajuan dalam mengekang infeksi virus meningkatkan sentimen untuk aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,024 poin atau 0,03% ke level 90,340 pada pukul 11.12 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, greenback juga tergelincir menuju level terendah tiga tahun terhadap dolar Selandia Baru karena para pedagang mencari mata uang yang memiliki hubungan dekat dengan perdagangan komoditas global ketika prospek ekonomi relatif membaik. Mata uang AS, yang sering dianggap sebagai aset yang aman selama masa ketidakpastian, kemungkinan akan turun lebih jauh karena lebih banyak investor fokus pada pemulihan ekonomi setelah pandemi berlalu.

“Mata uang komoditas dan poundsterling sangat kuat terhadap dolar AS, dan tren ini tampaknya akan terus berlanjut,” kata ahli strategi valuta asing di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Program vaksinasi di Inggris membuat banyak kemajuan. Aktivitas ekonomi secara bertahap kembali normal di banyak tempat, yang memberikan tekanan pada dolar AS.”

Loading...