Yield Obligasi AS Melonjak, Rupiah Ditutup Melemah 0,65%

Rupiah - harianjogja.bisnis.comRupiah - harianjogja.bisnis.com

JAKARTA – Rupiah harus rela terbenam di area merah pada perdagangan Rabu (17/2) sore ketika terus bergerak menguat, didukung kenaikan imbal hasil obligasi AS serta prospek percepatan . Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 90 poin atau 0,65% ke level Rp14.020 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.019 per dolar AS, terdepresiasi 1,04% dari transaksi sebelumnya di level Rp13.875 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,5% dialami rupiah.

Menurut analisis CNBC Indonesia, arus modal asing yang awalnya berpusat di negara berkembang, kini beralih ke obligasi AS. Pasalnya, yield obligasi AS mengalami kenaikan, menembus 1,3%, tertinggi sejak pekan keempat Februari 2020. Dengan yield yang semakin tinggi serta obligasi AS yang murah, serta-merta membuat investor langsung melirik.

“Kenaikan yield didorong oleh peningkatan ekspektasi inflasi karena stimulus fiskal dan pemulihan ekonomi yang lebih solid,” tutur senior FX strategist National Bank, Rodrigo Catrill, dilansir dari Reuters. “Selain itu, vaksinasi Covid-19 yang sukses akan menjamin aktivitas ekonomi bisa kembali dibuka.”

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak lebih tinggi pada hari Rabu, mencapai level tertinggi empat bulan terhadap yen, didorong imbal hasil obligasi AS yang melonjak karena prospek pemulihan ekonomi lebih lanjut dan kemungkinan percepatan inflasi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat ke level 90,861 pada pagi hari dan naik ke posisi 106,225 terhadap yen Jepang.

Laporan manufaktur Empire State Federal Reserve New York yang dirilis pada hari Selasa (16/2) menawarkan gambaran ekonomi yang optimis, dengan kenaikan ‘indeks harga yang dibayar’ memicu ketakutan akan inflasi yang lebih cepat. Optimisme itu dikatakan Presiden Fed St. Louis, James Bullard, bahwa kondisi AS ‘secara umum baik’, dan bahwa inflasi kemungkinan akan meningkat pada tahun ini.

Loading...