Berkedok Pengantin, Lebih dari 600 Wanita Pakistan Dijual ke China

Wanita Pakistan - dailytimes.com.pkWanita Pakistan - dailytimes.com.pk

ISLAMABAD – Kabar mengejutkan datang dari . Lebih dari 600 perempuan asal negara tersebut, baik yang masih remaja maupun sudah dewasa, telah ke sejak tahun 2018 lalu dengan kedok dijadikan pengantin. Sayangnya, pemerintah dan China sepertinya kompak berpura-pura tidak tahu mengenai perihal ini.

Dilansir TRT World, investigasi Associated Press pada awal tahun 2019 mengungkapkan bagaimana minoritas Kristen Pakistan telah menjadi target baru para pialang yang membayar orang tua miskin untuk menikahkan anak perempuan mereka, beberapa di antaranya remaja, dengan pria Tionghoa. Tragisnya, banyak pengantin wanita kemudian diisolasi dan dianiaya atau dipaksa menjadi pelacur di Negeri Panda.

Lingkaran manusia ini terdiri dari para perantara China dan Pakistan, termasuk para pendeta Kristen yang kebanyakan dari gereja-gereja evangelis kecil, yang menerima suap untuk mendesak jamaah agar menjual anak perempuan mereka. Penyelidik juga menemukan setidaknya seorang ulama Muslim yang menjalankan biro pernikahan dari seminari. Orang-orang Kristen menjadi sasaran karena mereka adalah salah satu komunitas termiskin di Pakistan yang mayoritas penduduknya Islam.

Salah satu pejabat senior yang menjadi narasumber AP mengatakan, diyakini bahwa ada 629 perempuan yang dijual kepada pengantin pria oleh keluarga mereka. Tidak diketahui berapa banyak lagi perempuan dan anak perempuan yang diperdagangkan sejak itu disatukan. Namun, pejabat itu mengatakan bahwa perdagangan yang menguntungkan masih terus berlanjut.

“Banyak perempuan yang berbicara dengan penyelidik menceritakan tentang perawatan kesuburan paksa, pelecehan fisik dan seksual dan, dalam beberapa kasus, pelacuran paksa,” kata pejabat tersebut. “Para pialang China dan Pakistan menghasilkan antara 25.000 hingga 65.000 AS dari pengantin pria, tetapi hanya sekitar 1.500 AS yang diberikan kepada keluarga pihak perempuan.”

Sayangnya, sejak diperoleh data tersebut, dorongan agresif para peneliti untuk mengungkap jaringan perdagangan menemui jalan buntu. Pada Oktober kemarin, sebuah pengadilan di Faisalabad membebaskan 31 warga Tiongkok yang didakwa sehubungan dengan perdagangan manusia. Beberapa wanita yang pada awalnya diwawancarai oleh polisi, juga menolak untuk memberikan kesaksian karena mereka diancam atau disuap untuk diam.

“Pada saat yang sama, pemerintah berusaha untuk membatasi penyelidikan, memberikan tekanan besar pada pejabat dari Badan Investigasi Federal yang mengejar jaringan perdagangan manusia,” tutur Saleem Iqbal, seorang aktivis Kristen yang telah membantu orang tua menyelamatkan beberapa gadis muda dari Tiongkok dan mencegah yang lain dikirim ke sana. “Beberapa (pejabat FIA) bahkan dipindahkan. Ketika kami berbicara dengan penguasa Pakistan, mereka tidak memperhatikan.”

Beberapa pejabat senior yang mengetahui peristiwa itu mengatakan bahwa penyelidikan terhadap perdagangan orang telah melambat, para penyelidik frustrasi, dan media Pakistan telah didorong untuk mengekang pelaporan mereka tentang perdagangan manusia. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui daftar itu.

“Kedua pemerintah, China dan Pakistan, mendukung pembentukan keluarga bahagia antara rakyat atas dasar sukarela, sesuai dengan hukum dan peraturan,” jelas kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui faks ke biro AP Beijing. “Pada saat yang sama, kami tidak memiliki toleransi dan secara tegas berperang melawan siapa pun yang terlibat dalam perilaku pernikahan lintas batas yang ilegal.”

Aktivis dan pekerja hak asasi manusia mengatakan bahwa Pakistan telah berusaha untuk menjaga perdagangan perempuan agar tetap ‘diam’ agar tidak membahayakan hubungan mereka yang semakin dekat dengan China. China sendiri telah menjadi sekutu Pakistan selama beberapa dekade. Negeri Tirai Bambu sudah memberi Islamabad bantuan militer, termasuk alat nuklir yang telah diuji sebelumnya dan rudal berkemampuan nuklir.

Saat ini, Pakistan menerima bantuan besar-besaran di bawah Inisiatif Belt and Road China, upaya yang bertujuan merekonstruksi Jalur Sutra dan menghubungkan Tiongkok ke seluruh penjuru . Di bawah proyek Koridor Ekonomi China-Pakistan senilai 75 miliar dolar AS, Beijing telah menjanjikan kepada Islamabad paket pengembangan infrastruktur yang luas, mulai pembangunan jalan dan pembangkit listrik hingga pertanian.

Loading...