Utang Belum Lunas, Zambia Hadapi Tekanan dari Kreditor China

Warga Zambia Afrika - www.photostaud.comWarga Zambia Afrika - www.photostaud.com

LUSAKA – Setelah berhadapan dengan kreditor swasta yang kuat, Zambia, sebuah kecil di Afrika, kini berselisih dengan pemberi pinjaman asal China tentang masalah penundaan utang yang telah melumpuhkan ekonomi mereka. Pasalnya, negara berada di bawah tekanan, bahkan sebelum pandemi menyebabkan penutupan perbatasan dan memukul harga .

Dikutip dari TRT World, Zambia berada di tengah krisis utang yang diperburuk oleh serangan pandemi . Upayanya untuk merundingkan rencana pembayaran kembali utang dengan pemberi pinjaman dipandang sebagai kasus uji coba bagi negara-negara lain yang terbebani utang. Selama bertahun-tahun, Zambia telah mengakumulasi sekitar 11,9 miliar dolar AS utang luar negeri, sepertiganya berutang kepada kreditor China, yang sebagian besar adalah entitas yang dikelola negara.

Bulan lalu, pemerintah setempat mengatakan, mereka telah menangguhkan pembayaran bunga obligasi luar negeri, yang juga dikenal sebagai Eurobonds, karena mengalihkan sumber daya untuk menangani Covid-19, yang telah menginfeksi lebih dari 15.000 orang dan menewaskan 345 orang. Kreditor swasta, seperti hedge fund yang berbasis di Inggris Raya, telah berinvestasi dalam obligasi ini.

Zambia memang telah memperoleh keringanan utang dari negara-negara anggota G20 di bawah inisiatif penangguhan utang (DSSI), yang menyebarkan pembayaran bunga selama empat tahun. Namun, pada tahun 2020 saja, Zambia harus membayar ratusan juta dolar AS pembayaran bunga kepada berbagai kreditor. Jika negosiasi utang berjalan sesuai rencana, Zambia akan dibebaskan dari keharusan membayar 979 juta dolar AS, menurut kementerian keuangannya.

Namun, kreditor swasta takut pembayaran yang mereka lepaskan bisa menjadi milik kreditor China, yang masih belum menyetujui rencana keringanan utang. Kreditor Negeri Panda telah menunjukkan kesediaan untuk membantu ‘hanya jika Zambia setuju untuk membayar pembayaran bunga sebelumnya’, yang mencapai sekitar 200 juta dolar AS. Pemerintah Presiden Edgar Lungu, yang kekurangan uang, ingin jumlah ini juga menjadi bagian dari program bantuan.

Sebagai negara berpenduduk 17 juta orang, Zambia adalah produsen tembaga terbesar kedua di Afrika. Pendapatannya sangat bergantung pada ekspor barang tambang tersebut. Namun, keuangan negara berada di bawah tekanan, bahkan sebelum pandemi menyebabkan penutupan perbatasan dan memukul harga komoditas. Ekspor tembaga, yang merupakan penyumbang devisa terbesar, belum cukup untuk menutupi kebutuhan dolar AS untuk membayar kreditor asing.

Zambia, kwacha, sudah terdepresiasi sejak tahun lalu, membuat pembayaran utang menjadi mahal, karena lebih banyak lokal yang dibutuhkan untuk membeli dolar AS. Lusaka mengatakan, hingga 87 persen dari pendapatannya dapat digunakan untuk membayar bunga, menyisakan sedikit untuk sakit dan sekolah. Ekonomi negara sendiri diperkirakan menyusut sebesar 4,2 persen. Inflasi bisa naik menjadi 14,3 persen dibandingkan dengan perkiraan sebelum pandemi, 6 sampai 8 persen, menurut pemerintah.

Ketika efek virus corona di negara-negara berpenghasilan rendah menjadi jelas, negara-negara kaya yang menjadi bagian dari G20, mengumumkan keringanan utang untuk tahun ini. Namun, pihak swasta menolak untuk berpartisipasi dalam inisiatif tersebut. Ini menjadi perhatian yang lebih besar, karena selama bertahun-tahun, banyak negara yang bergantung pada pemberi pinjaman swasta daripada pinjaman pemerintah-ke-pemerintah.

Dari total utang yang dimiliki negara-negara Afrika, sekitar 32 persen merupakan utang kepada swasta, jumlahnya mencapai sekitar 132 miliar dolar AS, menurut sebuah studi yang dilakukan dua tahun lalu. Kelompok lobi, yang menyerukan keringanan utang, seperti Jubilee Debt Campaign UK, telah lama menyarankan agar negara-negara berpenghasilan rendah berhenti membayar kreditor, termasuk mereka yang berada di sektor swasta. Karena, dibandingkan dengan pinjaman resmi, yang umumnya diambil dengan suku bunga lunak, tingkat pengembalian obligasi swasta lebih tinggi.

Argentina baru-baru ini menegosiasikan rencana untuk menjadwal ulang utangnya sebesar 65 miliar dolar AS. Namun, kreditor swasta, yang didukung oleh lembaga pemeringkat, sering menggunakan ‘taktik ketakutan’ untuk menghentikan pemerintah menahan pembayaran bunga. Setelah Ekuador mencapai kesepakatan dengan pemegang obligasi untuk menunda pembayaran 800 juta dolar AS guna memerangi virus corona, S&P Ratings menurunkan peringkat kredit mereka.

Loading...