Minoritas di Ceko, Umat Muslim Dihujani Penghinaan Rasis & Ancaman Mati

Umat Muslim di Ceko Dihujani Penghinaan Rasis & Ancaman Mati - www.newsweek.comUmat Muslim di Ceko Dihujani Penghinaan Rasis & Ancaman Mati - www.newsweek.com

BRNO – Jumlah orang beragam Islam di Republik Ceko sebenarnya terbilang kecil, sebesar 0,2 persen dari total 10,8 juta di negara tersebut. Namun, mereka sering menghadapi permusuhan dan antagonisme dari komunitas mayoritas, yang, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Harvard, menunjukkan tingkat bias ras yang lebih tinggi, terutama terhadap umat Islam, dibandingkan dengan negara Eropa lainnya.

“Orang-orang sangat rasis di Brno dan selalu ada beberapa insiden yang terjadi di sana, terutama berkaitan dengan atau . Mereka membenci . Hampir seluruh Eropa Timur sangat rasis dan anti-,” kata Manzoor Hussain Sahi, Pakistan yang menghabiskan tiga tahun di Praha sebagai mahasiswa, dilansir TRT World. “Karena meningkatnya kejahatan rasial yang menargetkan , saya meninggalkan negara itu dan pindah ke Irlandia.”

Pada tanggal 4 Januari kemarin, sebuah grafiti rasis dan fanatik ditemukan di dinding masjid di Brno, kota terbesar kedua di Republik Ceko. Ini bukan kali pertama masjid pertama di negara itu, yang dibangun pada tahun 1998, mendapat serangan dari sayap kanan serta radikal kiri. Pada tahun 2013 lalu, sepotong babi digantung di pintu depan masjid dan tulang babi berserakan di pintu masuknya. Dua tahun kemudian, jendelanya dihancurkan dan dinding pintu masuk disemprot dengan oli mesin.

“Sejujurnya, di lembaga akademis, tidak ada Islamofobia. Saya dan rekan-rekan Muslim saya tidak menghadapi segala jenis kebencian terkait dengan Islam di akademisi,” sambung Sahi. “Itu hanya di depan umum. Mereka benar-benar merasa takut ketika melihat seorang Muslim berdiri di samping mereka. Hal ini terjadi pada beberapa kelompok tertentu. Orang merasa tidak aman ketika melihat berjilbab.”

Nasionalisme defensif adalah fitur utama dari Czechia modern. Ketakutan pemusnahan di tangan para imigran, yang dipicu oleh politisi sayap kanan di seluruh negara-negara Eropa Tengah, juga telah menyelimuti negara itu, yang hingga hari ini mendefinisikan kewarganegaraan teritorialnya dengan bahasa. Jadi, jika Anda tidak berbicara bahasa Ceko, Anda adalah tersangka dan dalam skenario terburuk, adalah orang asing yang ‘jahat’.

Sebagai salah satu negara yang paling ateis di dunia, Republik Ceko menempati urutan ketiga, setelah China dan Jepang, karena jumlah ateisnya yang meyakinkan. Era komunis dan sekularisasi yang berkelanjutan telah menyebabkan hanya 20 persen populasi yang memiliki afiliasi formal dengan apa pun. Sekitar 10,3 persen mempraktikkan Kristen Katolik, 0,8 persen adalah Protestan, dan sembilan persen menganut lain.

Kefanatikan yang membara terhadap kaum Muslim muncul ketika para pengungsi dari negara-negara Timur Tengah, yang terkena dampak perang, tiba di satu dan dua negara Eropa Timur dan Tengah dari tahun 2015 dan seterusnya. Republik Ceko diharuskan menerima sekitar 4.300 orang yang mencari suaka, yaitu sekitar 410 pengungsi per satu juta penduduknya, menurut sistem kuota pengungsi Uni Eropa.

Namun, Pemerintah Ceko menolak untuk mematuhi kuota yang ditentukan Uni Eropa, hanya mengambil 12 pengungsi. Milos Zeman, membenarkan tindakan itu dengan mengatakan bahwa negara mereka tidak bisa mengambil risiko terhadap serangan teroris seperti yang terjadi di Prancis dan Jerman. Alih-alih memenuhi kuota, Zeman membangun dua pusat penahanan besar-besaran untuk pencari suaka.

Kelompok-kelompok sayap kanan telah menjadi berani untuk secara terbuka mengejek umat Islam dan secara langsung menyerang keyakinan mereka. Pada 2016, sebuah kelompok bernama Block Against Islam berkumpul di pasar pakaian tradisional Muslim di luar Kedutaan Besar Arab Saudi di Praha. Mereka membuat pertunjukan yang disebut ‘To Mecca with Humour – against Terrorsim and for Democracy’ dan berbaris di sekitar toilet portabel dalam upaya untuk ‘menyalin’ para peziarah Muslim yang berkeliling Kabah.

Para pengunjung masjid di Brno sering dilecehkan oleh Party of Social Justice (DSSS). Properti masjid telah rusak beberapa kali dan jamaah telah dilecehkan secara verbal. Dalam satu kejadian tertentu, anggota DSSS mengadakan acara peragaan busana pakaian dalam dengan tujuan untuk mengajarkan ‘nilai-nilai Barat’ kepada umat Islam.

Martin Konvicka, kepala prakarsa Islamofobia, melakukan invasi imajiner ke Republik Ceko oleh ISIS. Selama acara, yang disebut ‘The Occupation of Prague – Event in Support of Democracy’, anggota Martin Konvicka Initiative (IMK) yang anti-Islam juga melakukan pemalsuan tiruan. Lalu, pada tahun 2016, Konvicka memicu kemarahan ketika membakar Al Quran di depan masjid yang baru-baru ini dirusak di Brno.

Kebencian tanpa malu-malu terhadap minoritas Muslim, dengan upaya untuk tidak memanusiakan mereka, telah memiliki dampak sosial. Insiden bullying dan meludahi Muslim telah dilaporkan. Suatu ketika, seorang gadis terlempar dari bus karena penumpang lain mengira dia mengenakan jilbab. Beberapa turis Muslim pun mengeluh karena menerima tatapan marah dan pelecehan verbal, terutama jika mereka terlihat Islam.

Loading...