Uji Kesuburan Anda, Biaya Tes AMH Mulai Rp600 Ribuan

tes-amh

Ketidaksuburan menjadi salah satu momok yang ditakuti kebanyakan perempuan, terutama mereka yang ingin mendapatkan keturunan. Karena itu, disarankan bagi para perempuan untuk memeriksakan kesuburan mereka pada usia 20 tahunan. Pemeriksaan kesuburan ini salah satunya dapat dilakukan melalui tes ovarium seperti tes AMH.

AMH atau anti-mullerian hormone sebenarnya baru diketahui para di sekitar tahun 2000. Kala itu, belum diketahui secara pasti dan peran AMH dalam reproduksi. Bahkan, pada tahun 2005, AMH belum banyak dilirik peneliti dalam melakukan riset reproduksi. Padahal, dengan mengetahui kadar AMH, seorang perempuan bisa mengetahui usia biologis dan pola cadangan ovarium-nya.

“AMH adalah senyawa glikoprotein yang diproduksi sel granulosa folikel yang mengelilingi sel telur dan kini juga digunakan sebagai penanda cadangan ovarium,” jelas Budi Wiweko, spesialis kebidanan dan kandungan dari Fakultas Kedokteran . “Dengan mengetahui usia biologis dan pola cadangan ovarium, dokter bisa mengetahui kapan waktu yang tepat bagi pasien untuk hamil.”

Uji kesuburan dengan tes AMH dilakukan dengan cara mengukur kadar AMH dalam darah. Prosesnya seperti tes darah biasa. Dari tes kesuburan ini, kita bisa mengetahui berapa jumlah cadangan telur yang bisa ‘dikerjakan’. Semakin tinggi tingkat AMH, semakin tinggi pula folikel yang dimiliki orang tersebut sehingga semakin tinggi pula persediaan telur yang berpotensi subur.

tes AMH sendiri bervariasi, tergantung kebijakan masing-masing rumah sakit atau laboratorium. Di RSKIA Bhakti Ibu di Yogyakarta, tes AMH sekitar Rp580 ribuan, sedangkan tes AMH di Laboratorium Bio Medika Cabang Kepala Gading Jakarta Utara sebesar Rp750.000. Di RSIA Hermina Podomoro sekitar Rp800 ribuan. Sementara, di Laboratorium Pramita Cabang Baru, Jakarta Pusat dikenakan Rp570 ribuan, selisih sedikit dengan Laboratorium Prodia Cabang Sunter.

Meski demikian, hasil uji kesuburan melalui tes AMH ini tidak selalu sempurna. Pasalnya, tes ini hanya menguji kuantitas telur, bukan kualitasnya. Namun, kebanyakan dokter masih kerap menggunakan tes AMH ini karena bisa dilakukan di segala kondisi, termasuk ketika seorang perempuan sedang dalam siklus menstruasi.

Loading...