UEA Rutin Sewa Tentara Bayaran, AS Perkuat Pengaruh di Timur Tengah

Tentara bayaran Blackwater AS - www.radarmiliter.com

ABU DHABI – (UEA) telah mempekerjakan ribuan tentara bayaran dan mengerahkan pasukan swasta untuk melakukan pembunuhan profil tinggi dan melanjutkan ambisi geopolitik mereka, demikian pernyataan International Institute for Rights and Development and the Rights Radar Foundation pada Human Rights Council Sesi ke-45 di Jenewa pekan lalu. Di balik keputusan itu, AS mungkin akan meraup untung dalam mencapai tujuan mereka di kawasan Timur Tengah. 

“UEA menyewa tentara bayaran AS untuk melakukan pembunuhan besar-besaran di Yaman. Mereka melakukan beberapa operasi di Aden dan sejumlah kota, yang mengakibatkan pembunuhan puluhan politisi dan tokoh masyarakat Yaman selama lima tahun terakhir,” bunyi pernyataan itu. “Di antara 30.000 tentara bayaran dari empat Amerika Latin yang disewa oleh UEA, setidaknya 450 tentara bayaran telah dikerahkan ke Yaman setelah mereka menerima pelatihan oleh pelatih AS.”

Dilansir dari TRT World, pada tahun 2018, BuzzFeed News mendokumentasikan bagaimana UEA menyewa pasukan swasta kecil, yang terdiri dari mantan agen Pasukan Khusus AS, untuk membunuh Anssaf Ali Mayo, pemimpin lokal partai Islam Yaman, Al Islah, yang anggotanya termasuk di antara penerima Hadiah Nobel Perdamaian. UEA menginginkan Ali Mayo mati bukan karena dia seorang teroris, tetapi karena dia menentang keterlibatan UEA dalam perang yang telah menghancurkan Yaman sejak 2015.

Menurut laporan BuzzFeed News, tentara bayaran direncanakan memasang bom yang dilapisi pecahan peluru ke pintu markas besar Al Islah. Ledakan itu, salah satu pemimpin ekspedisi menjelaskan, seharusnya membunuh semua orang di kantor. Namun, hanya beberapa detik sebelum bom ditanam, salah satu tentara bayaran mulai menembak ke arah individu yang mendekat di ‘jalan yang remang-remang’. Plot gagal itu mengawali gelombang pembunuhan politik yang didanai UEA di Yaman, yang mengakibatkan kematian lebih dari dua lusin pemimpin Al Islah.

Perusahaan yang berbasis di UEA juga telah mengerahkan tentara bayaran AS, Australia, dan Eropa untuk membantu Jenderal Khalifa Haftar dalam upayanya untuk menggulingkan yang diakui PBB di Tripoli, dan melanggar embargo senjata internasional, menurut laporan baru-baru ini oleh Four Corners, Australia. Pada 27 Juni 2019, 20 tentara bayaran, masing-masing dibayar USD 80.000 untuk kontrak 3 bulan oleh Lancaster 6 DMCC dan Opus Capital Asset Limited FZE, keduanya terdaftar di UEA, tiba di Benghazi untuk memenuhi komitmen mereka.

Tentara bayaran itu pada dasarnya akan beroperasi sebagai pasukan khusus Haftar, dengan misi untuk mengidentifikasi, memburu, dan membunuh anggota pemerintah Libya di Tripoli. Namun, ketika tentara tiba tanpa helikopter penyerang yang dijanjikan, Haftar sangat marah dan mengancam akan membunuh mereka yang melarikan diri. “Ketika Anda memprivatisasi perang, apa pun bisa terjadi. Tiba-tiba hukum penawaran dan permintaan menggantikan hukum konflik bersenjata,” kata seorang mantan tentara bayaran kepada Four Corners.

Tentara bayaran dan tentara swasta ini mungkin akan mengubah cara kita memahami aturan perang dan sistem internasional. Sementara perang antar-negara didefinisikan dalam ranah hukum internasional berbasis negara-bangsa, kontraktor militer swasta (private military contractors atau PMC) beroperasi di luar paradigma itu dan tanpa sistem yang jelas yang meminta pertanggungjawaban mereka atas kejahatan mereka.

Jika tren penggunaan PMC terus berlanjut, perang tidak akan dilancarkan oleh pemerintah, melainkan oleh individu dan perusahaan terkaya di dunia, yang mungkin menggunakan sumber daya mereka untuk melakukan pembunuhan politik, kudeta, dan konflik bersenjata secara rahasia dan jauh dari pengawasan pemerintahan global. 

Hubungan khusus yang berkembang antara Presiden AS, , dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed (MBZ), juga menambah alasan untuk khawatir lebih lanjut. Pasalnya, UEA dengan cepat menjadi pilihan militer favorit AS untuk mereka di Timur Tengah, yang tidak hanya memperburuk konflik di kawasan, tetapi juga merusak aliansi keamanan tradisional, termasuk NATO.

Selama dua dekade terakhir, UEA telah memperoleh perlengkapan militer paling maju di dunia Arab, membeli senjata, pelatihan, dan bantuan keamanan lainnya dari AS. Menurut David Kirkpatrick, mantan kepala biro Kairo untuk New York Times, pengaruh MBZ dalam kebijakan luar negeri AS ‘tampak lebih besar dari sebelumnya’ dan ‘sering’ meyakinkan Trump untuk mengadopsi pandangannya tentang Qatar, Libya, dan Arab Saudi.

Sekarang, UEA sedang melobi Trump agar mentransfer pangkalan udara AS di Incirlik, Turki, ke Abu Dhabi, dalam upaya untuk merusak aliansi AS-Turki serta merusak kepentingan strategis dan keamanan Turki di sepanjang perbatasan Suriah dan di Libya. Dari sudut AS, UEA merupakan klien yang sempurna karena memberikan alat untuk melaksanakan tujuan militer mereka di Timur Tengah tanpa harus memikirkan HAM dan pertimbangan politik dalam negeri.

Loading...