Turun 4 Poin, Rupiah Tertekan Data Ekonomi AS yang Positif

Jakarta rupiah dibuka melemah 4 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp 13.350 per dolar AS di awal pagi hari ini, Kamis (31/8). Kemarin, Rabu (30/8) Garuda berakhir melemah 0,04 persen atau 6 poin di level Rp 13.346 per dolar AS usai diperdagangkan antara Rp 13.339 hingga Rp 13.352 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS merangkak naik 0,68 persen menjadi 92,877 di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB lantaran para investor tengah mencermati berbagai data ekonomi Amerika Serikat yang terpantau positif. Menurut Ketenagakerjaan ADP, lapangan pekerjaan sektor swasta AS naik sebanyak 237.000 pekerjaan pada bulan Agustus, melampaui ekspektasi sebesar 185.000.

Selama ini laporan ADP kerap dijadikan patokan untuk data penggajian non pertanian (non-farm payrolls) AS yang akan dirilis dalam waktu dekat. Departemen Perdagangan juga melaporkan produk (PDB) AS mengalami kenaikan di tingkat tahunan sebesar 3,0 persen pada kuartal II 2017.

Menurut FedWatch CME Group, ekspektasi kebijakan moneter ketat di AS kini telah melemah berkat data inflasi yang lembut. Pasar sedang mengamati lebih lanjut langkah yang akan diambil oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve) ke depannya.

Di sisi lain, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan bahwa pelaku pasar masih dilanda kekhawatiran terkait efek diluncurkannya rudal oleh Korea Utara yang ternyata dapat melalui wilayah udara Jepang. “Ini membuat volatilitas cukup tinggi dan pasar lari ke safe haven, seperti dollar AS,” ungkap David, Rabu (30/8), seperti dilansir Kontan.

Research & Analyst Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra menuturkan jika data ekonomi Amerika Serikat yang dilaporkan pada Selasa (29/8) lalu cukup baik. Indeks kepercayaan menurut Conference Board Inc (CB) telah naik ke posisi 122,9 atau lebih tinggi dari prediksi pasar. Hal tersebut menjadi salah satu yang mendorong pergerakan the Greenback.

Sepanjang hari ini Putu memprediksi jika pergerakan rupiah kemungkinan akan banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti data awal pertumbuhan ekonomi AS. Jika data awal sesuai dengan konsensus pasar, maka USD akan kembali bergerak menguat dan menekan rupiah.

Loading...