Gencatan Senjata dengan AS, Turki Enggan Tarik Pasukan dari Suriah Utara

Pasukan Militer Turki - www.bbc.comPasukan Militer Turki - www.bbc.com

ANKARA – Setelah hampir lima jam perundingan pada Kamis (17/10) kemarin, Wakil Presiden AS, Mike Pence, akhirnya menyetujui kesepakatan dengan Presiden , Recep Tayyip Erdogan, yang menerima kehadiran militer di kawasan Suriah utara, sebagai imbalan atas janji gencatan lima hari. Turki sendiri mengatakan itu bukan gencatan bagi mereka, melainkan jeda untuk operasi militer.

Dilaporkan The New York Times, kesepakatan itu secara singkat menghentikan invasi yang dipimpin Turki ke Suriah utara, setelah Presiden menarik pasukan AS dari perbatasan Turki-Suriah, yang memungkinkan pasukan Turki memasuki petak yang dikuasai Kurdi. Namun, dalam banyak hal, perjanjian tersebut merupakan kemenangan bagi Turki, memberikannya sebagian besar dari apa yang diinginkannya dan menghindari ancaman sanksi Trump terhadap tersebut.

Sejak 2012, pasukan Kurdi telah memanfaatkan kekacauan saudara di Suriah untuk membentuk wilayah otonom mereka di sepanjang perbatasan dengan Turki, serta bebas dari kendali Suriah. Untuk tujuan memperluas wilayah, mereka lantas bermitra dengan pasukan AS untuk mengusir militan Islamic State (IS/ISIS) dari tersebut.

Kesepakatan itu sekarang menjanjikan Turki bahwa pasukan Kurdi akan mundur dari daerah itu tanpa perlawanan. Selain itu, AS menerima ‘zona aman’ yang dikontrol Turki dan setuju untuk mengangkat ancaman sanksi ekonomi terhadap Turki atas serangannya. “Sepenuhnya disetujui bahwa zona aman akan berada di bawah kendali Angkatan Bersenjata Turki,” ujar Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.

Namun, pengumuman itu masih menimbulkan pertanyaan tentang apakah para pejuang Kurdi bahkan akan setuju untuk dipindahkan dari Suriah utara. Pence mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya sudah bekerja dengan anggota milisi Kurdi, serta pasukan pertahanan Suriah untuk memfasilitasi ‘penarikan yang tertib’. itu, katanya, telah benar-benar sudah dimulai.

Meski demikian, para pengamat mengatakan, masih belum jelas bagaimana kesepakatan itu bisa terbukti pada akhirnya, mengingat sebagian besar aktor utama di Suriah utara, yakni kepemimpinan Kurdi dan pemerintah Rusia dan Suriah, tidak berada di meja perundingan. Menurut Sinan Ulgen, ketua Center for Economics and Foreign Policy Studies, keputusan yang berkaitan dengan Suriah utara tidak lagi hanya tentang Turki dan AS. “Ini juga tentang Rusia dan rezim Suriah dan YPG Kurdi,” katanya.

Bahkan, jika pasukan Kurdi Suriah meninggalkan daerah yang saat ini diserang oleh pasukan Turki, salah satu negosiator AS mengakui bahwa tidak akan ada yang menghentikan mereka dari pengerahan kembali ke daerah lain di sepanjang perbatasan Suriah yang didambakan Turki. Daerah-daerah itu sendiri sekarang berada di bawah yurisdiksi de facto rezim Suriah dan pendukung Rusia-nya.

“Para pejuang Kurdi dikonsultasikan selama negosiasi, termasuk pada Kamis sore, dan menyarankan bahwa kehilangan wilayah lebih baik daripada kekerasan yang berlanjut dan pertumpahan darah ketika pasukan Turki maju,” papar James F. Jeffrey, utusan khusus Departemen Luar Negeri AS untuk Suriah. “Tidak ada keraguan bahwa YPG berharap bahwa mereka bisa tinggal di daerah-daerah ini.”

Jeffrey menambahkan, para pejabat Turki tidak punya niat apa pun untuk tetap berada di Suriah begitu para pejuang Kurdi telah pergi dari wilayah perbatasan yang mereka pegang setelah memerangi ISIS. Namun, para pasukan Turki sudah mempertahankan kehadirannya di bagian lain Suriah utara, tempat mereka menunjukkan sedikit tanda-tanda akan pergi. “Penghentian hanya berlaku di daerah pusat timur laut, karena di situlah orang Turki dapat melakukan gencatan senjata,” sambung Jeffrey.

Sementara jeda dalam kekerasan memungkinkan administrasi Trump untuk menyatakan kemenangan diplomatik, itu sebenarnya tidak cukup untuk menghilangkan kutukan bipartisan atas pembalikan kebijakannya di Suriah yang membuang Kurdi sebagai sekutu. Para kritikus menggambarkan kesepakatan itu sebagai penghinaan kedua terhadap Trump oleh Erdogan dalam waktu kurang dari sehari.

Loading...