Tumbuh Pesat, Ekonomi Digital Malah ‘Mendistorsi’ PDB Asia

Ekonomi Digital - giant-computer.com

JAKARTA – teknologi telah membuat berbasis di meningkat lebih cepat dibandingkan lainnya. Sayangnya, aktivitas teknologi tersebut tidak dihitung dengan baik dan tepat dalam pengukuran (PDB), sehingga mendistorsi ukuran sebenarnya dari ekonomi di kawasan Benua Kuning.

Nikkei melaporkan, ekonomi digital Asia tumbuh lebih cepat daripada di tempat lain. China sudah menjadi pasar e-commerce terbesar di dunia dengan 40 persen dari nilai , atau 11 kali lebih banyak dari AS, menurut McKinsey Global Institute. Sementara, laporan tahun 2016 oleh Google dan perusahaan Singapura, Temasek, menggabungkan Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina sebagai ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Laporan Google dan Temasek menunjukkan bahwa total nilai ekonomi digital negara-negara tersebut dapat mencapai 200 miliar dolar AS, hampir sama dengan PDB Vietnam tahun 2015. Grace Citra Dewi, seorang peneliti Center for Strategic and International Studies di Jakarta, memperkirakan bahwa untuk setiap kenaikan penetrasi mobile sebesar satu persen, akan menambah 640 juta dolar AS untuk PDB.

Presiden Joko Widodo telah menginginkan ekonomi digital di Indonesia mampu mencapai 130 miliar dolar AS pada tahun 2020, meski hanya sekitar 20-25 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses internet reguler. Namun, Scott Wallsten, wakil presiden penelitian di Technology Policy Institute di AS, pernah menulis pada tahun 2015 lalu bahwa memperkirakan nilai internet itu sulit, bukan hanya karena banyak aktivitas online tidak memerlukan pembayaran uang, tetapi juga karena aktivitas ini bisa ‘mengacaukan’ aktivitas offline lainnya.

Pada pertengahan November kemarin, IMF sempat mengalokasikan dua hari untuk mengungkap permutasi dan teka-teki pengukuran ekonomi digital. Ada banyak diskusi tentang hal-hal di smartphone Anda yang dapat Anda lakukan secara gratis yang biasa Anda bayar, ungkap Marshall Reinsdorf, ekonom senior di departemen statistik IMF.

“Konten digital gratis lainnya, seperti browsing Facebook dan Google, tidak dihitung dalam hal menghasilkan PDB,” timpal Rachel Soloveichik, seorang ekonom riset di US Bureau of Economic Analysis. “Nilai dari konten ini bukan hanya tidak terukur dalam statistik PDB dan produktivitas saat ini, namun secara fundamental tidak dapat diukur dalam kerangka kerja saat ini.”

‘Kelalaian’ digital semacam itu dapat mempertajam perselisihan yang bertahan lama mengenai PDB sebagai ukuran standar ekonomi. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menggambarkan PDB sebagai ‘ikon kontroversial’ dan mengatakan bahwa ‘ia mengukur pendapatan, tetapi tidak setara, dan ia mengukur pertumbuhan, tetapi bukan destruksi’.

Loading...