Transaksi Berjalan Diprediksi Surplus, Rupiah Menguat Tipis

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – Sempat limbung, rupiah akhirnya berakhir di zona hijau pada perdagangan Rabu (14/10) sore ketika memperkirakan bahwa berjalan pada kuartal III 2020 akan mencatat surplus. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda menutup transaksi dengan menguat 7,5 poin atau 0,05% ke level Rp14.717,5 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.780 per dolar AS, menguat 13 poin atau 0,08% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.793 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,33% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,14% menghampiri rupiah.

Menurut analisis CNBC Indonesia, ada sentimen positif yang menaungi rupiah. Kemarin (13/10), Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa transaksi berjalan kuartal III 2020 diprediksi akan mencatat surplus, atau yang pertama kali sejak sembilan tahun terakhir. Surplus ini dipengaruhi oleh perbaikan di sisi ekspor dan penyesuaian impor sejalan dengan domestik yang belum kuat.

“Namun, penurunan impor bagi Indonesia sebenarnya adalah kabar buruk,” tulis CNBC Indonesia. “Sebab, lebih dari 90% impor Indonesia berupa bahan baku dan barang modal untuk proses produksi dalam negeri. Saat impor turun, itu berarti proses produksi mampet. Karena itu, surplus transaksi berjalan kali ini sulit untuk disyukuri.”

Dari global, dolar AS meraup keuntungan terhadap sebagian besar mata uang pada hari Rabu, karena pertanyaan baru tentang vaksin dan kurangnya kesepakatan tentang stimulus fiskal tambahan mendorong investor bergeser ke aset yang lebih aman. Mata uang Paman Sam terpantau naik tipis 0,063 poin atau 0,07% ke level 93,594 pada pukul 15.57 WIB.

Di belahan Bumi yang lain, euro dan pound Inggris kemungkinan akan memperpanjang penurunan, karena kembalinya pembatasan aktivitas di Eropa dan Inggris untuk memerangi gelombang kedua infeksi COVID-19 membuat investor cemas. Meski demikian, pergerakan mata uang kemungkinan akan tertahan menjelang pemilihan presiden AS yang akan datang pada 3 November, dengan sentimen akan mendukung greenback dalam beberapa hari mendatang.

“Banyak yang menunjukkan kenaikan lebih untuk dolar AS,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto, dilansir Reuters. “Stimulus fiskal mungkin tidak datang sampai setelah pemilihan. Bank Rakyat China menghentikan kenaikan yuan. Tidak ada alasan untuk membeli euro, dan ada banyak transaksi euro yang perlu dibatalkan.”

Loading...