Tragedi Bom Surabaya, Rupiah Berbalik Melemah di Akhir Dagang

Rupiah - radarsukabumi.comRupiah - radarsukabumi.com

Teror bom Surabaya ternyata memberikan dampak negatif terhadap pergerakan rupiah pada sisa perdagangan Senin (14/5) ini, meski sebelumnya mampu dibuka dengan penguatan tipis. Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, Garuda mengakhiri transaksi dengan melemah 13 poin atau 0,09% ke level Rp13.973 per .

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup melonjak 124 poin atau 0,88% di posisi Rp13.960 per pada akhir pekan (11/5) kemarin. Tren positif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka menguat tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.957 per AS. Sayangnya, spot gagal mempertahankan posisi di zona hijau hingga tutup transaksi.

“Saya sendiri berharap agar insiden bom bunuh diri di Surabaya bisa segera terungkap dan ditangani dengan baik sehingga tidak mengganggu stabilitas pergerakan rupiah,” tutur analis Bina Artha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama. “Jadi, situasi dan kondisi dalam negeri tetap kondusif bagi pasar.”

Dari pasar , indeks dolar AS sebenarnya terpantau kehabisan tenaga pada hari Senin, ketika imbal hasil AS melorot karena para investor mengurangi harapan bahwa Federal Reserve akan meluncurkan serangkaian kenaikan yang cepat. Mata uang Paman Sam tersebut melemah 0,112 poin atau 0,12% menuju level 92,425 pada pukul 10.55 WIB.

Seperti dilansir Reuters, sempat mencapai level tertinggi dalam 4,5 bulan di posisi 93,416 pada perdagangan Rabu (9/5) kemarin, seiring dengan kenaikan yang dialami imbal hasil obligasi AS. Namun, kinerja imbal hasil bergerak melandai menyusul rilis data inflasi AS yang kurang bergairah, sehingga meredakan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih cepat.

“Agar dolar AS mampu melanjutkan reli, Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Juni, yang akan menjadi persyaratan minimum,” tutur presiden di FPG Securities di Tokyo, Koji Fukaya. “ Selain itu, juga membutuhkan dukungan imbal hasil Treasury tenor 10-tahun untuk membangun pijakan di atas 3%.”

Loading...