Tingkat Obesitas di Asia Pasifik Makin Mengkhawatirkan

Tingkat Obesitas di Asia - asia.nikkei.com

Tokyo rupanya telah membuat hidup di pun mengalami perubahan. Namun temuan terbaru menyatakan bahwa kemakmuran dan perubahan gaya hidup telah membawa efek samping yang tak diinginkan seperti obesitas.

Berdasarkan studi terbaru dari Asian Development Institute (ADBI) melaporkan bahwa sekitar 1 miliar penduduk di Asia dan Pasifik mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Bahkan menurut studi tersebut tingkat obesitas di Asia Pasifik telah mencapai level epidemik karena ini telah menghabiskan sekitar 166 miliar per tahunnya.

ADBI mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah mengakibatkan ketersediaan murah semakin mudah didapat dan meningkatkan makan berlebih yang berdampak pada kenaikan berat badan yang melebihi ambang batas. Menurut ADBI seseorang dikategorikan kelebihan berat badan apabila memiliki indeks masa tubuh 25 dan dinyatakan obesitas bila memiliki BMI (Body Mass Index) 30.

Dalam tersebut tertulis bahwa pada tahun 2013 sekitar 40,9% orang dewasa di wilayah Asia Pasifik mengalami kelebihan berat badan, lebih tinggi dibandingkan persentase 34% pada tahun 1993 silam. Sedangkan di China mengalami kenaikan dari level 13,2% menjadi 27,9%, demikian pula Bangladesh yang tingkat obesitasnya meningkat 2 kali lipat dari 8% menjadi 16,9%. Level tertinggi dialami oleh Kepulauan Pasifik yang mencapai angka 60,6%.

Asia Tengah turut menyumbang tingkat kelebihan berat badan dan obesitas tertinggi mencapai 49,25%. Sementara itu di Asia Timur, Selatan, dan Tenggara memiliki tingkat obesitas yang relatif rendah, masing-masing dengan persentase sebesar 33,06%, 28,85%, dan 26,3%.

Namun kondisi yang lebih mengkhawatirkan sudah mulai terjadi. Obesitas saat ini bukan hanya menjadi permasalahan yang dialami oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Laporan menyebutkan bahwa kasus obesitas yang dialami anak-anak di Asia dan Pasifik berada pada angka yang cukup memprihatinkan. Wilayah China misalnya, kasus anak-anak yang kelebihan berat badan atau obesitas tahun 2014 mencapai 24%, sedangkan di Malaysia mencapai 22,5%.

ADBI menyatakan setidaknya diperlukan 2 pendekatan untuk mengatasi masalah obesitas, baik lewat edukasi tentang asupan gizi dan aktivitas gizi, maupun perbaikan dalam penyediaan layanan kesehatan. “Di negara-negara berkembang, orang-orang yang kelebihan berat badan pergi ke pusat kesehatan primer untuk penyakit kronis, bukan untuk manajemen berat badan,” ujar Matthias Helble, ekonom senior di ADBI, seperti dilansir Nikkei.

“Kendala lain adalah fasilitas perawatan kesehatan yang tidak lengkap untuk menerima pasien obesitas. Infrastruktur rumah sakit perlu ditingkatkan,” imbuhnya. Menurut Helble penggunaan teknologi secara aktif untuk meningkatkan aktivitas fisik juga sebaiknya terus dikembangkan agar dapat melawan obesitas.

Loading...