Tingkat Hunian Turun, Malaysia Larang Pembangunan Properti Baru

Properti - www.e-consulta.comProperti - www.e-consulta.com

KUALA LUMPUR – atas hunian dan yang mengalami penurunan memaksa Malaysia untuk mengeluarkan kebijakan yang akan melarang pengembang (developer) membangun baru. Namun, kebijakan ini tidak serta-merta melegakan dan analis serta sentral memperingatkan situasi yang bakal memburuk, termasuk kekosongan pasokan di residensial komersial dan tinggi.

Dalam sebuah , seperti dikutip Nikkei, bank sentral setempat mengatakan tingkat kekosongan hunian di Kuala Lumpur dan daerah sekitarnya bisa naik dari 24 persen saat ini menjadi 32 persen pada tahun 2022 mendatang. Sementara, menurut data pemerintah, total transaksi properti secara nasional telah turun 6 persen di semester pertama 2017, dan karenanya mereka akan memberlakukan larangan pengembangan unit kondominium mewah dan properti komersial.

“Di sektor ritel, tingkat hunian rata-rata telah menurun selama enam tahun terakhir dan sekarang melayang pada tingkat terendah dalam lima tahun sebesar 86 persen,” kata Nawawi Tie Leung dalam sebuah penelitian baru-baru ini. “Pertumbuhan tahunan indeks rumah Malaysia telah meluncur dari 10,1 persen di kuartal kedua 2014 menjadi 5,6 persen pada akhir Juni tahun ini.”

Laporan tersebut menambahkan bahwa tekanan mendasar di sektor ritel bukan hanya soal permintaan-penawaran biasa yang dapat diselesaikan melalui berlalunya waktu, juga meningkatnya kemakmuran dan populasi yang meluas. Sebaliknya, perubahan struktural termasuk kebiasaan berbelanja, sosial-demografi, dan teknologi akan terus berdampak pada pasar. “Jika kita tidak hati-hati, kelebihan pasokan (di pasar properti) bisa berdampak negatif terhadap ekonomi,” kata Gubernur Bank Negara Malaysia, Muhammad Ibrahim.

Meski demikian, beberapa pengembang masih tetap akan membangun properti dan real estat di beberapa negara bagian. Mitsui Shopping Park Lalaport Kuala Lumpur berencana membangun mal berlantai lima, yang merupakan bagian dari pengembangan yang lebih besar yang mencakup kondominium, hotel, dan perkantoran di area built-up. Sementara, China Powerchina International Group dan mitra lokal mulai melakukan reklamasi di Selat Malaka untuk sebuah proyek real estat besar, yang dikenal sebagai Melaka Gateway.

Jumlah properti yang tidak terjual dan kosong, yang ditambah dengan persediaan yang masuk, cukup untuk menahan pasar, Moody’s Investors Service memperingatkan dalam catatan prospek kredit akhir November. Sementara, Simon Chen, analis senior lembaga pemeringkat, mengatakan bahwa pasokan minyak mentah dapat meningkatkan risiko penurunan harga properti yang akan berdampak pada perbankan negara tersebut. “Kami percaya bahwa menangguhkan pengembangan properti baru tidak akan memperbaiki situasi kelebihan pasokan selama lima tahun ke depan ketika proyek sekarang dalam pengembangan memasuki pasar,” ujar Chen.

Loading...