The Fed Khawatirkan Laju Inflasi, Rupiah Perkasa di Akhir Dagang

mampu memanfaatkan pelemahan AS usai risalah mencatat kekhawatiran para pembuat kebijakan mengenai Paman Sam yang rendah. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI berhasil mengalami penguatan sebesar 26 poin atau 0,19% ke level Rp13.504 per AS di akhir Kamis (12/10) ini.

Sebelumnya, pada Rabu (11/10) kemarin, rupiah harus ditutup terdepresiasi 18 poin atau 0,13% di posisi Rp13.530 per dolar AS. Namun, mata uang Garuda mampu rebound di awal dagang hari ini dengan dibuka menguat 17 poin atau 0,13% ke level Rp13.513 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.487 hingga Rp13.535 per dolar AS.

Dari global, indeks dolar AS terus bergerak turun setelah rilis risalah yang menunjukkan bahwa sejumlah pembuat kebijakan masih mengkhawatirkan kondisi inflasi . Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,130 poin atau 0,14% menuju level 92,885 pada pukul 09.41 WIB, setelah sebelumnya berakhir turun 0,29% di posisi 93,015.

Risalah The Fed yang dirilis Rabu waktu setempat menyatakan bahwa Bank Sentral AS itu berencana mengurangi portofolio obligasi, menahan kenaikan suku bunga, dan masih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi meski negara sempat diterjang badai. Namun, risalah ini juga mencatat bahwa banyak pembuat kebijakan yang mengkhawatirkan inflasi yang rendah tahun ini.

“Pejabat-pejabat utama The Fed khawatir mengenai inflasi inti yang sepertinya belum akan pulih dalam waktu cepat,” ujar Ekonom Capital Economics, Paul Ashworth, seperti dilansir Reuters. “Namun, hal itu sepertinya tidak akan menghambat mereka untuk melakukan normalisasi suku bunga, termasuk saat tingkat pengangguran belum membaik.”

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.521 per dolar AS, melemah 12 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.509 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,19% masing-masing dialami peso Filipina dan dolar Taiwan.

Loading...