The Fed Khawatir Laju Inflasi, Rupiah Berakhir Positif

Risalah rapat yang menunjukkan kekhawatiran mengenai laju AS yang rendah mampu dimanfaatkan rupiah untuk melenggang mulus di zona hijau sepanjang Kamis (23/11) ini. Menurut dari Index pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda mengakhiri dengan penguatan sebesar 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.511 per AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah ditutup menguat 6 poin atau 0,04% di posisi Rp13.523 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (22/11) kemarin. Tren positif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka melonjak 30 poin atau 0,22% ke level Rp13.493 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis melenggang nyaman di zona hijau hingga penutupan dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.503 per dolar AS, naik 20 poin atau 0,14% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.523 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif terhadap dolar AS, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,26% menghampiri renminbi China, disusul rupee India yang naik 0,12%.

Dari , indeks dolar AS memang terpantau bergerak menguat pada perdagangan hari ini, namun masih tetapi berada di kisaran level terendah dalam dua bulan terhadap yen Jepang, menyusul kekhawatiran sejumlah pejabat The Fed mengenai laju inflasi yang rendah. Mata uang Paman Sam naik tipis 0,054 poin atau 0,06% ke level 93,274 pada pukul 10.14 WIB, setelah sebelumnya berakhir melemah 0,78% di posisi 93,220.

Risalah rapat 31 Oktober-1 November yang dirilis Rabu kemarin waktu setempat menunjukkan kekhawatiran sejumlah pembuat kebijakan mengenai laju inflasi yang rendah. Para pembuat kebijakan juga menyoroti data ekonomi dalam menentukan periode kenaikan di masa mendatang, sekaligus memperkirakan bahwa AS harus dinaikkan dalam waktu dekat.

“Fokus pasar akan tertuju pada pandangan pembuat kebijakan The Fed mengenai kemungkinan laju penaikan suku bunga pada tahun 2018 mendatang, terutama setelah Jerome Powell mengambil alih kursi kepemimpinan dari Janet Yellen,” ujar ekonom Sumitomo Mitsui Bank Corporation, Hirofumi Suzuki. “Namun, mengingat perdebatan mengenai inflasi yang rendah, ada keraguan tentang seberapa besar bank sentral akan dapat menaikkan suku bunga.”

Loading...