The Fed Dianggap Tarik-Ulur, Rupiah Dibuka Menguat 5 Poin

Jakarta dibuka 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp 13.417 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (5/1). Sebelumnya, Kamis (4/1), rupiah berakhir 0,39 persen atau 53 poin ke level Rp 13.422 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran angka Rp 13.406 hingga Rp 13.482 per dolar AS.

Nilai tukar dolar AS dilaporkan menurun terhadap sejumlah mata uang utama walaupun Amerika Serikat positif. Indeks dolar AS melemah 0,29 persen menjadi 91,899 di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB. Menurut para analis, meski pekerjaan AS lebih tinggi dari perkiraan, inflasi Amerika Serikat dinilai masih menahan gerak the Greenback di pasar spot.

Berdasarkan data National Employment Report yang dikeluarkan oleh ADP Research Institute pada Kamis, sektor swasta AS menambahkan 250.000 pekerjaan pada bulan Desember 2017, lebih tinggi dari perkiraan pasar di angka 190.000. Angka ADP biasanya dipandang secara luas sebagai indikator awal untuk laporan non farm payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat.

Pasca dirilisnya hasil rapat Federal Reserve, dolar AS tampaknya juga belum mampu bangkit lantaran pasar mulai jenuh merespons tarik ulur kebijakan . Menurut Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono, dolar AS sedang mengalami kondisi di mana efek sentimen ke pasar mulai memudar. Para pelaku pasar beranggapan bahwa pernyataan petinggi terkait kenaikan suku bunga hanyalah upaya tarik ulur saja.

Hal ini tampak dari rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee () yang mengisyaratkan kenaikan suku bunga acuan sebanyak 3 kali sepanjang tahun 2018 ini. Pada saat yang bersamaan, The Fed masih mengkhawatirkan tingkat inflasi yang tidak bisa memenuhi target. Wahyu memprediksi suku bunga AS akan naik di rapat The Fed berikutnya yang digelar pada Maret 2017 depan. Sayangnya pasar telah mengantisipasi hal tersebut.

Sementara itu, pasar merespons yang berbeda terhadap kebijakan stimulus European Central Bank (ECB). Pasar memprediksi bahwa ada harapan suku bunga ECB akan naik. “Kalau ECB berpotensi menaikkan suku bunga, maka potensi penguatan euro pun masih besar,” ungkap Wahyu, seperti dilansir Kontan.

Loading...