The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga, Seperti Apa Prediksi Harga Emas di Tahun 2018?

Di tahun 2018 ini fluktuasi harga emas diprediksi akan berlangsung sampai akhir kuartal pertama. Pasalnya ada berbagai sentimen positif dan negatif yang terus membayangi pasar emas. Pada minggu ini emas menunjukkan performa yang cukup baik. Kamis (1/2) lalu harga emas untuk kontrak pengiriman April 2018 di Comodity Exchange naik lagi ke level 1.349,90 per troy ounce. Dalam sehari harga emas dilaporkan telah menguat hingga 0,51 persen.

Menurut Deddy Yusuf Siregar, PT Tradepoint Futures, kondisi pasar tahun 2018 ini agak berbeda dari tahun 2017 lalu. Jika biasanya awal tahun pergerakan emas ditentukan oleh perayaan tahun baru China, maka kini harga emas diperkirakan akan dipengaruhi oleh rencana kenaikan , Federal Reserve bulan Maret depan, pergantian Gubernur yang baru, dan kondisi Amerika Serikat.

“Goldman Sachs saja memperkirakan emas baru akan menguat di kuartal II 2018,” ungkap Deddy, seperti dilansir Kontan. Menurut prediksi Deddy, harga emas kemungkinan belum mampu berada di posisi yang kuat pada akhir Maret 2018 mendatang.

Lebih lanjut Deddy menuturkan bahwa biasanya mendekati perayaan Imlek harga emas akan cenderung mengalami koreksi lantaran pembelian emas telah dilakukan oleh masyarakat dari jauh-jauh hari. Belum lagi apabila The Fed memang benar-benar akan menaikkan suku bunga acuannya bulan Maret. Menurut perkiraan Deddy, pada akhir kuartal I 2018 harga emas kemungkinan berkisar antara USD 1.315 hingga USD 1.302 per troy ounce.

Sementara itu, Alwi Asegaff, analis PT Kapital Investama Berjangka berpendapat lain. Menurut Alwi, tren pergerakan emas saat ini masih bullish sebab banyak sentimen positif yang dapat menyokong harga emas. Misalnya kenaikan permintaan fisik menjelang Imlek, sikap investor yang akhir-akhir ini mulai melakukan hedging emas untuk menyiasati jatuhnya bursa saham, sampai prospek AS yang masih tertekan. “Kalau kenaikan suku bunga sudah bisa diantisipasi,” ucap Alwi.

Emas juga justru berhasil memanfaatkan momentum dari langkah beberapa bank sentral yang akan bersiap untuk memperketat kebijakan ekonominya. Beberapa bank sentral seperti European Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), Bank of China (BoC), dan Bank of Japan (BoJ) telah memberikan sinyal mengurangi pelonggaran moneter.

Loading...