Terseret Kurs Asia, Rupiah Melemah di Selasa Pagi

masih belum beranjak dari zona merah pada awal perdagangan Selasa (19/9) ini seiring pergerakan negatif mata uang di menjelang meeting. Seperti dikabarkan Index, mata uang Garuda membuka dengan 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.260 per dolar AS. Sebelumnya, spot ditutup turun 15 poin atau 0,11% di posisi Rp13.255 per dolar AS pada perdagangan awal pekan (18/9) kemarin.

“Pelemahan kurs rupiah terjadi lantaran mata uang Garuda ini terseret koreksi mata uang Asia lainnya,” ujar chief economist Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih. “Mayoritas mata uang di kawasan regional juga melemah, sehingga ini menjadi tekanan rupiah dari sentimen eksternal.”

Sementara itu, SoeGee Futures, Nizar Hilmy, menambahkan bahwa koreksi yang terjadi pada rupiah kali ini sifatnya hanya sementara. Pasalnya, surplus neraca perdagangan dalam negeri yang mencapai 1,72 miliar dolar AS bisa menjadi penyokong bagi mata uang domestik. “Dengan demikian, akan terjadi penyesuaian terhadap kurs rupiah,” kata Nizar.

Meski demkian, para analis sepakat bahwa pelaku saat ini masih fokus menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar tanggal 19-20 September 2017 waktu setempat. Hasil pertemuan FOMC kali memang mendapat perhatian penuh karena ditengarai akan menentukan arah kebijakan Paman Sam. The Fed juga diprediksi akan memutuskan apakah suku bunga acuan bakal naik atau tidak.

Sikap pasar yang cenderung wait and see ini membuat pergerakan mampu naik pada perdagangan kemarin. Mata uang tersebut terpantau menguat 0,049 poin atau 0,05% menuju level 91,921 pada pukul 16.41 WIB. Selain pertemuan FOMC, kenaikan indeks dolar AS juga didorong naiknya imbal hasil obligasi AS yang memperkuat daya tarik terhadap .

Pada hari ini, Nizar pun memprediksi rupiah masih bergerak sideways dengan kecenderungan melemah di rentang Rp13.220 hingga Rp13.260 per dolar AS. Sementara, Lana memperkirakan spot bakal kembali rebound dengan rentang pergerakan sempit antara Rp13.245 hingga Rp13.250 per dolar AS jika suku bunga The Fed batal naik.

Loading...