Terpukul Data Ekonomi AS, Rupiah Melemah di Awal Dagang

Penguatan rupiah yang terjadi pada akhir pekan lalu diprediksi tidak akan berlanjut pada perdagangan (8/8). Pasalnya, data ketenagakerjaan AS terbaru yang direspon pasar serta pelonggaran stimulus oleh membuat indeks dolar AS mampu memperpanjang tren penguatan.

Seperti dilaporkan Index, rupiah mengawali perdagangan awal pekan ini dengan pelemahan sebesar 37 poin atau 0,28% di posisi Rp13.154 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.11 WIB, mata uang Garuda kembali 40 poin atau 0,30% ke level Rp13.157 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau dibuka naik tipis 0,070 poin atau 0,07% di level 96,264.

“Laju dolar AS cenderung bergerak seiring perbaikan AS,” ujar Kepala Riset NH Securities Indonesia, . “Meski rilis klaim pengangguran naik tipis, tetapi diimbangi membaiknya factory orders sehingga makin melemahkan mata uang lainnya dan secara tak langsung berimbas pada laju rupiah.”

Ditambahkan Reza, pemangkasan suku bunga Inggris oleh Bank of England menjadi 0,25% dan penambahan stimulus menjadi 435 miliar pound sterling juga menjadi sentimen positif bagi pergerakan laju dolar AS. “Di sisi lain, rilis PDB yang meningkat dari periode sebelumnya tidak mendapat respon positif yang signifikan,” sambungnya.

“Meski potensi penguatan rupiah masih ada, namun terhalangi pelemahan mata uang lain terhadap dolar AS,” tambah Reza. “Hari ini, rupiah kemungkinan bergerak di rentang support Rp13.129 per dolar AS dan resisten Rp13.093 per dolar AS.”

Senada, Analis Treasury BNI, Resti Afiadinie, mengungkapkan bahwa kekhawatiran pasar yang meningkat usai Bank of England melonggarkan stimulus dan memotong suku bunga ke level 0,25% memang harus diwaspadai di awal pekan ini. “Rupiah kemungkinan bergulir di antara Rp13.080 hingga Rp13.150 per dolar AS,” katanya.

Loading...