Selasa Sore, Rupiah Melemah Tertekan Tensi Geopolitik

Rupiah - www.validnews.idRupiah - www.validnews.id

JAKARTA – praktis tidak memiliki dorongan untuk bergerak ke zona hijau pada Selasa (13/8) sore seiring dengan krisis di Hong Kong dan Argentina yang membuat menghindari aset berisiko. Menurut data Index pada pukul 15.45 WIB, Garuda melemah 73 poin atau 0,51% ke level Rp14.323 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.283 per dolar AS, terdepresiasi 63 poin atau 0,44% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.220 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,44% menghampiri rupee India.

Dari , indeks dolar AS bergerak lebih tinggi pada hari Selasa, namun melemah terhadap yen Jepang, ketika aset safe haven lebih diburu investor seiring dengan kerusuhan di Hong Kong dan kondisi geopolitik di Argentina. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,177 poin atau 0,18% ke level 97,557 pada pukul 13.45 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, mata uang Jepang, yang sering diburu ketika kondisi keuangan bergejolak, telah menguat sepanjang bulan ini, didukung oleh faktor-faktor seperti ketegangan perdagangan AS-China dan prospek pelonggaran moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve. Yen mendapatkan dukungan baru dari kerusuhan di Hong Kong yang makin meluas serta hasil pemilihan umum di Argentina yang mengakibatkan penurunan peso, saham, dan obligasi tersebut.

“Ini adalah risiko’ di pasar yang dihasilkan oleh peristiwa di Hong Kong dan Argentina yang akhirnya meningkatkan permintaan yen,” kata ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki,. “Spekulan meningkatkan posisi buy mereka pada yen dan benar-benar tidak ada tanda-tanda bahwa yen akan melemah. Target berikutnya adalah level tertinggi yen yang dicapai terhadap dolar AS pada awal Januari.”

Hampir senada, kepala bidang ekonomi dan strategi di Mizuho Bank Ltd., Wisnu Varathan, aksi penghindaran risiko dari Argentina telah mendorong aksi jual aset berisiko tinggi, termasuk rupiah, rupee India, dan peso Filipina. Sementara, pedagang valas di INTL FCStone, Singapura, Mingze Wu, menuturkan bahwa meningkatnya ketidakpastian geopolitik akan berdampak pada mata uang emerging market.

Loading...