Tensi Dagang Mereda, Rupiah Lanjutkan Reli di Awal Pekan

Rupiah membuka transaksi dengan menguat 32 poin atau 0,22% ke level Rp14.270 per dolar AS - mediaindonesia.com

JAKARTA – Kabar terbaru mengenai perang AS- yang mulai mereda memberikan sentimen positif bagi rupiah untuk melanjutkan reli pada awal Senin (3/12) ini. Seperti dipaparkan Bloomberg Index, mata uang Garuda membuka dengan menguat 32 poin atau 0,22% ke level Rp14.270 per . Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 81 poin atau 0,56% di posisi Rp14.302 per pada akhir pekan (30/11) kemarin.

Dalam pembicaraan di sela-sela KTT G20, Presiden AS, , dan Presiden China, Xi Jinping, setuju untuk meredakan ketegangan perdagangan. Kedua pemimpin tersebut sepakat untuk tidak lagi menaikkan satu sama lain per 1 Januari 2019. Melalui kesepakatan ini, Trump akan meninggalkan terhadap barang dari China senilai 200 miliar dolar AS, juga tidak menaikkan tarif sebesar 25 persen atas produk dari Negeri Panda.

“Negosiasi dilakukan dalam suasana penuh keramahan dan terus terang. Presiden Trump dan Presiden Xi setuju kedua belah pihak harus mengarahkan hubungan bilateral ini ke arah yang lebih baik,” ujar penasihat negara China, Wang Yi. “Diskusi masalah dan perdagangan berjalan sangat positif dan konstruktif. Kedua kepala negara telah mencapai konsensus untuk menghentikan sikap saling menaikkan tarif baru.”

Menurut ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, sentimen ini membuat rupiah masih berpotensi menguat ke level Rp14.000 per dolar AS. dikatakannya akan kembali masuk ke negara-negara berkembang, khususnya Indonesia. “Namun, untuk menembus posisi Rp13.000 per dolar AS, membutuhkan waktu lebih karena pelaku pasar menunggu rilis rapat tanggal 19 Desember mendatang,” ujar Bhima.

“Meski penguatan bisa berlanjut, mata uang Garuda juga masih tetap rentan mengalami depresiasi. Sejauh ini, yang bisa menyelamatkan rupiah adalah penerbitan utang pemerintah sehingga investor asing masuk lagi ke Indonesia,” sambung Bhima. “Tetapi, jika suku bunga The Fed naik, maka kondisi bisa berbalik arah alias capital reversal.”

Loading...