Tensi Dagang AS-China Makin Hot, Rupiah Drop di Akhir Pekan

Rupiah - mappijatim.or.idRupiah - mappijatim.or.id

tidak mampu bangkit dari zona merah sepanjang akhir pekan (3/8) ini, ketika pasar global sedang dihantui kekhawatiran akan meningkatnya tensi antara AS dengan China. Menurut catatan Index, Garuda ditutup melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.498 per AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir turun 38 poin atau 0,26% di posisi Rp14.478 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (2/8) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka melemah 18 poin atau 0,12% ke level Rp14.496 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot praktis tidak memiliki daya untuk bangkit ke area hijau.

Dari pasar global, indeks dolar AS relatif lebih kuat versus sekeranjang mata uang utama, ketika kekhawatiran akan meningkatnya tensi dagang antara AS dan China menghantui . Mata uang Paman Sam terpantau naik ke level 95,190 pada pagi tadi, posisi tertinggi selama dua pekan terakhir, meski kemudian turun tipis 0,046 poin atau 0,04% ke level 95,134 pada pukul 11.10 WIB.

Dilaporkan Reuters, Kamis kemarin, China berjanji melakukan pembalasan jika AS positif menaikkan pada asal negara mereka. Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, sempat menginstruksikan untuk meningkatkan tarif dari 10% menjadi 25% pada impor asal China senilai 200 miliar dolar AS. Tetapi, karena AS mengimpor jauh lebih banyak daripada yang dilakukan China, para investor melihat perang dagang akan lebih merugikan ekonomi Negeri Panda.

“Tampaknya pasar bereaksi terhadap perang perdagangan AS-China karena AS adalah ‘pemenang’ sedangkan China adalah pihak yang kalah,” ujar kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto. “Pasar Negeri Tirai Bambu pada umumnya lemah, dan itulah sebabnya penurunan renminbi membuat greenback perkasa.”

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.503 per dolar AS, terdepresiasi 47 poin atau 0,39% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.446 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,37% menghampiri renminbi China.

Loading...