Selasa Sore, Rupiah Melemah Digoyang Tensi AS-China

Rupiah dan Dolar - sindonews.comRupiah dan Dolar - sindonews.com

JAKARTA – gagal mempertahankan posisi di area pada perdagangan Selasa (14/7) sore, ketika relatif bergerak naik seiring dengan hubungan antara AS dan China yang semakin panas, memicu penghindaran aset berisiko. Menurut Index pada pukul 14.57 WIB, mata uang Garuda melemah 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.450 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.512 per dolar AS, melemah 26 poin atau 0,18% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.486 per dolar AS. Di saat bersamaan, sejumlah mata uang juga drop, dengan penurunan terdalam sebesar 0,49% dialami won Korea Selatan.

Dari global, indeks dolar AS sedikit lebih tinggi namun dalam kisaran sempit terhadap sebagian besar mata uang pada hari Selasa, karena kekhawatiran baru tentang ketegangan diplomatik antara AS dan China serta meningkatnya kasus virus corona memicu penghindaran aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,097 poin atau 0,10% ke level 96,561 pada pukul 11.40 WIB.

Seperti dilansir Reuters, perdagangan mata uang telah menipis karena kebangkitan infeksi coronavirus baru, yang menyebabkan beberapa daerah menempatkan pembatasan baru pada aktivitas bisnis. Pasar sekarang juga menghadapi ancaman tambahan berupa balas dendam antara Washington dan Beijing atas akses ke pasar keuangan AS, kebebasan sipil di Hong Kong, dan klaim teritorial di Laut China Selatan.

“Fokusnya telah bergeser ke apakah lockdown coronavirus putaran berikutnya akan cukup besar untuk merusak pertumbuhan ,” kata ahli strategi valuta asing senior di IG Securities, Junichi Ishikawa. “Masalah Hong Kong berpotensi menyebabkan gesekan baru dalam tensi perdagangan. Perkembangan negatif di kedua sisi dapat menyebabkan saham bergerak lebih rendah, dan mendorong beberapa arus safe haven ke dolar AS dan yen.”

AS dan China melakukan pertempuran diplomatik di beberapa bidang yang berpotensi mengganggu pasar keuangan. Administrasi Presiden AS, Donald Trump, berencana untuk segera membatalkan perjanjian tahun 2013 antara pihaknya dan otoritas audit China. Ini bisa menjadi pertanda tindakan keras yang lebih luas terhadap perusahaan Negeri Panda yang terdaftar di pasar saham AS.

Loading...