Tenaga Robot di Industri Mobil AS, Kawan atau Lawan?

Tenaga Robot di Industri Mobil AS - asia.nikkei.com

PALO ALTO, AS – Saat ini, di AS memang sedang getol mempekerjakan robot di pabrik mereka. Meski lebih praktis dan ekonomis, namun keputusan ini menimbulkan riak di . Pasalnya, untuk setiap robot tambahan yang diperkenalkan per seribu pekerja, lima atau enam orang akan kehilangan mereka.

Seperti diberitakan , industri AS merupakan salah satu robot terbesar di dunia. Menurut Federation of Robotics, industri kendaraan Paman Sam memiliki 127.000 robot yang dipekerjakan pada tahun 2016, meningkat 70 persen dibandingkan dekade sebelumnya. Setelah krisis , General Motors dan produsen mobil lainnya menahan untuk pabrik baru dan lebih meningkatkan produktivitas dengan tenaga robot.

Statistik U.S. Bureau of Economic Analysis menunjukkan industri otomotif AS menghasilkan rekor 175,9 miliar dolar AS pada nilai tambah untuk tahun 2016. Sementara itu, lapangan kerja industri hanya mencapai 70 persen dari puncaknya pada tahun 2000. “Robot industri semakin menggantikan pekerja manusia setelah krisis keuangan. Sesuatu yang membantu menghidupkan kembali industri mobil AS,” kata analis di Center for Automotive Research, Kristin Dziczek.

Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan apakah pekerja di industri mobil AS melihat robot sebagai ‘pencuri’ pekerjaan mereka atau tidak. Namun, seorang pekerja di Ford Motor di Utica bernama D.J. Marshall malah bersyukur bahwa pabrikan memiliki robot. Menurutnya, robot membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan lebih cerdas.

“Ketika saya memulai karier pada tahun 1994, ada orang-orang yang mengatakan bahwa pekerjaan saya akan hilang dan robot akan mengambil alih pekerjaan kita,” kata Chris Vitale, yang bekerja untuk Fiat Chrysler Automobiles dan tinggal di St. Claire, Dekat Detroit. “Saya mendengar argumen ini pada tahun 1994 dan 24 kemudian, saya masih bekerja di sini dan berharap bisa enam tahun lagi.”

Optimisme seperti itu di kalangan pekerja lini biasa terjadi. Ada dua alasan untuk hal ini. Pertama, mereka percaya janji Donald Trump untuk mengembalikan ‘kilau yang hilang’ dari manufaktur Amerika. Kedua, AS telah pulih dari level terendah tahun 2009. Sebaliknya, mereka justru tidak terlalu suka mengenai pandangan tentang perdagangan bebas.

Sementara itu, mengenai ancaman robot yang menyingkirkan pekerjaan manusia, Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin pernah mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada dalam pandangan mereka, bahkan 50 tahun sampai 100 tahun lagi. Pendahulu Trump, Barack Obama, menekankan pentingnya pendidikan dan percaya bahwa otomatisasi bisa menjadi masalah tenaga kerja yang serius. Namun, administrasi Trump tampaknya menghindari perdebatan mengenai keterampilan apa yang dibutuhkan pekerja untuk bertahan di era kecerdasan buatan atau AI.

Penjualan mobil di AS memang mencapai level tertinggi sepanjang masa dengan terjual 17,55 juta unit pada tahun lalu. Namun, menurut laporan Massachusetts Institute of Technology, penjualan mobil AS kembali turun lima kali secara beruntun pada bulan Mei. Dengan angka yang cenderung menurun ini, para pekerja mungkin harus mempelajari keterampilan baru untuk tetap selangkah lebih maju dari robot.

Loading...