Tembus 11.000 Dolar AS, Pamor Bitcoin Diprediksi Bakal Merosot

Bitcoin - www.wsj.com

Meski sempat meredup, pamor virtual kini kembali menanjak, salah satunya dampak dari virus ransomware WannaCry beberapa waktu lalu. Jika pada bulan Januari 2017 kemarin satu masih dihargai sekitar 700 AS, kini nilainya sudah menembus angka 11.000 AS. Meski demikian, dalam jangka panjang, pamor Bitcoin berpotensi karena masalah regulasi dan pesaing mata uang virtual lainnya yang mungkin lebih baik.

Dikutip dari DW, Bitcoin merupakan mata uang , namun dinilai tidak cocok dijadikan transaksi sehari-hari seperti belanja bahan makanan. Mata uang ini juga bukan pilihan yang baik bagi mereka yang ingin menabung untuk masa pensiun. “ Bitcoin tidak terlalu berguna untuk spekulasi keuangan,” tutur Nicholas Perrin, perancang strategi dan di Holochain.

Secara konseptual, Bitcoin dapat dianalogikan dengan koin emas. Sama seperti emas yang merupakan logam langka yang harus diperoleh dalam penambangan yang sulit dan mahal, komputasi yang mahal juga diperlukan untuk menghasilkan token Bitcoin. Nilai Bitcoin sepenuhnya didorong oleh sebuah narasi yang mengusulkan bahwa token terbatas ini dapat digunakan sebagai ‘uang’ karena dapat diperdagangkan antara dompet .

“Tetapi, karena nilai Bitcoin sangat mudah berubah dari waktu ke waktu, uang virtual tersebut tidak cocok digunakan untuk transaksi biasa,” sambung Perrin. “Bitcoin akan selalu rentan terhadap skema ‘pump and dump’ yang membuatnya tidak dapat digunakan sebagai uang sehari-hari untuk orang biasa. Nilainya pada dasarnya ‘sewenang-wenang’, didorong oleh rasa takut kehilangan.”

Bitcoin juga tidak membantu orang menengah ke bawah, imbuh Perrin, karena kedua cara utama mendapatkan Bitcoin tidak terjangkau oleh orang miskin. Salah satu caranya adalah dengan membeli Bitcoin melalui pertukaran Bitcoin secara online, menggunakan uang sungguhan. Cara lain adalah penambangan Bitcoin, yang harus melibatkan sejumlah besar komputer khusus.

Memang, tidak ada cara yang andal untuk memprediksi pergerakan nilai Bitcoin dalam jangka pendek. Namun, untuk jangka panjang, ada beberapa alasan yang bisa membuat Bitcoin kehilangan sebagian besar atau keseluruhan nilainya. Salah satu alasannya adalah persaingan. Ada semakin banyak crypto-currencies yang bersaing, dan beberapa di antaranya mungkin dirancang lebih baik daripada Bitcoin.

Risiko lain terhadap Bitcoin adalah masalah regulasi. Beberapa negara telah mencoba untuk ‘membunuh’ crypto-currencies. China misalnya, baru-baru ini melarang ICO (initial coin offering), yaitu penjualan Bitcoin yang baru dicetak atau token digital lainnya. Sementara, Jepang menetapkan peraturan untuk pertukaran Bitcoin, dengan harus mengajukan lisensi untuk beroperasi.

Namun, imprimatur legalitas yang dikeluarkan oleh peraturan Jepang mengenai Bitcoin tampaknya telah menyebabkan lebih banyak orang, terutama di Negeri Sakura, yang melihat Bitcoin sebagai bentuk instrumen keuangan yang ‘sah’ sebagai tempat berinvestasi. Ini bisa dibilang merupakan kunci dalam menyebabkan kenaikan Bitcoin yang cepat belakangan ini. Tetapi, perubahan peraturan di masa depan bisa dengan mudah menyebabkan penurunan Bitcoin dengan cepat.

Loading...