Tekanan Global Terlalu Kuat, Rupiah Berakhir Lemas

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki kekuatan untuk bergerak ke area hijau pada Kamis (2/4) sore, ketika tekanan dari terlalu berat sehingga memupus beberapa stimulus dari dalam negeri. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup melemah 45 poin atau 0,27% ke level Rp16.495 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia menetapkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hari ini di posisi Rp16.741 per dolar AS, terdepresiasi 328 poin atau 2% dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.413 per dolar AS, sekaligus menjadi level terburuk. Mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,57% dialami won Korea Selatan.

“Rupiah pada hari ini memang masih akan melanjutkan tren pelemahan,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir . “Tekanan global masih cukup kuat walaupun pemerintah dan Bank Indonesia terus membuat terobosan-terobosan melalui strategi bauran guna menekan melemahnya ekonomi akibat pandemi .”

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya juga bergerak lebih rendah pada hari Kamis, ketika bergegas ke mata uang paling likuid di dunia, dipicu gangguan besar pada perdagangan global imbas pandemi coronavirus. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,308 poin atau 0,31% menuju level 99,365 pada pukul 13.19 WIB.

Dilansir Reuters, pasar sedikit ketakutan setelah briefing pers yang ‘mengerikan’ dari Presiden AS, Donald Trump, pada Selasa (31/3) malam waktu setempat. Ia memperingatkan AS tentang kondisi ‘menyakitkan’ selama dua minggu ke depan dalam upaya memerangi wabah virus corona, bahkan dengan langkah-langkah sosial seperti menjaga jarak.

“Jika Presiden AS yang dikenal optimistis memperingatkan pandemi terburuk yang belum terjadi, pabrik waras mana yang tetap membiarkan pintu tetap terbuka dan memasukkan pegawai dalam daftar gaji?” ujar kepala ekonom keuangan di MUFG Union Bank di New York, Chris Rupkey. “Dengan hanya beberapa poin data aktual sejauh ini, hasilnya menunjukkan ini lebih mirip depresi daripada resesi varietas tanaman.”

Bukti paling nyata dari kerusakan itu terjadi pekan lalu ketika klaim pengangguran awal AS di mingguan, salah satu indikator tren ekonomi paling awal, melonjak menjadi 3,28 juta, melesat melampaui rekor sebelumnya yang ditetapkan 695.000 pada tahun 1982. Data klaim pengangguran berikutnya, yang dijadwalkan pada pukul 12.30 GMT, diperkirakan akan menampilkan 3,50 juta aplikasi lainnya.

Loading...