Tak Terpengaruh Efek Nuklir Korea Utara, Rupiah Ditutup Naik 68 Poin

Kekhawatiran efek ujicoba nuklir yang dilakukan Korea Utara terhadap penurunan kurs sejumlah ternyata tidak berlaku bagi rupiah. Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda justru menutup perdagangan Selasa (13/9) ini dengan menguat 68 poin atau 0,51% ke level Rp13.168 per dolar AS.

Penguatan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan dibuka naik 55 poin atau 0,42% ke level Rp13.181 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda terus menguat 65 poin atau 0,49% ke posisi Rp13.171 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.37 WIB, spot masih bertahan di zona hijau dengan menguat 63 poin atau 0,48% ke level Rp13.173 per dolar AS.

Selain rupiah, penguatan terhadap dolar AS juga dialami sebagian besar mata uang ASEAN. Hingga Selasa siang, memimpin penguatan dengan melonjak 0,62%, diikuti baht Thailand yang terdongkrak 0,14%. Namun, dolar Singapura justru terpantau 0,15% terhadap the .

Sebelumnya, adanya sentimen negatif yang datang dari Korea Utara memicu kekhawatiran para pelaku pasar yang melakukan aksi profit taking mengingat mata uang Garuda menguat cukup tajam sepanjang pekan lalu. “Ketegangan nuklir di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan dapat membuat bursa Asia melemah pada hari ini,” ujar Analis MNC Securities, Gilang Anindito.

Senada, Kepala NH Korindo Securities , , juga mengatakan bahwa adanya efek uji nuklir Korea Utara sebesar 10 kilo ton membuat mata uang Asia, terutama , langsung melemah. “Selain itu, belum adanya sentimen positif dari dalam negeri membuat rupiah rentan mengalami pelemahan,” ungkapnya.

Loading...