Tahun Ajaran Baru Dimulai, Rupiah Lanjut Menguat di Senin Pagi

Rupiah menguatRupiah dibuka menguat 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.993 per dolar AS - kompas.com

JAKARTA – Rupiah mampu melanjutkan tren positif ketika membuka awal pekan (15/7) ini, bertepatan dengan ajaran baru sekolah. Menurut paparan Index, Garuda dibuka menguat 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.993 per . Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 59 poin atau 0,42% di posisi Rp14.008 per dolar pada akhir pekan (12/7) kemarin.

Sementara itu, indeks mencoba bangkit dari area merah pada perdagangan Senin pagi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,009 poin atau 0,01% ke level 96,819 pada pukul 08.32 WIB. Sebelumnya, harus ditutup melemah 0,240 poin atau 0,25% di posisi 96,810 pada Jumat waktu setempat.

“Adanya kemungkinan pemerintah AS melakukan intervensi ke perdagangan dolar AS untuk menekan nilai greenback menjadi katalis positif bagi rupiah,” ujar Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir Bisnis. “Pergerakan rupiah juga masih akan mendapatkan sentimen dari proyeksi pemangkasan acuan AS oleh The Fed.”

Hampir senada, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim menilai, pidato Gubernur The Fed, Jerome Powell, yang memberikan sinyal peluang penurunan suku bunga akan menjadi tiket bagi penguatan rupiah pada hari ini. Sentimen domestik juga memberi lampu hijau untuk rupiah, misal disetujuinya Destry Damayanti sebagai calon Deputi Gubernur Senior oleh DPR karena selama ini dia dikenal sebagai ekonom pro-pasar.

Sentimen domestik lainnya adalah data neraca perdagangan Indonesia sepanjang bulan Juni 2019 yang akan diumumkan hari ini. Neraca perdagangan sepanjang bulan kemarin diperkirakan akan mengalami surplus sebesar 500 juta dolar AS sampai 687 juta dolar AS, karena terdorong oleh musim libur dan kinerja impor yang melambat.

“Peningkatan surplus Juni didorong oleh laju bulanan impor yang lebih lambat dibandingkan ekspor,” kata Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. “Laju ekspor Juni diperkirakan tercatat -3,52 persen (year-on-year), dipengaruhi oleh penurunan volume. Hal ini karena masih lemahnya aktivitas manufaktur mitra dagang Indonesia dan harga komoditas ekspor seperti CPO.”

Loading...