Survei MFMW: Pembantu Rumah Tangga di Hong Kong Terpaksa Tidur di Toilet

Pembantu Rumah Tangga di Hong Kong - www.straitstimes.com

KUALA LUMPUR – Pekerja di ternyata dipaksa untuk tidur di toilet, lubang kecil, dan di balkon oleh juragan mereka yang kaya raya. Di yang mempekerjakan 350 ribu pembantu rumah tangga ini, kebanyakan dari dan , tiga dari lima pekerja rumah tangga harus tinggal di akomodasi yang tidak sesuai, dan terkadang mengancam kesehatan dan keselamatan mereka.

Menurut kelompok hak asasi manusia, Mission for Migrant Workers (MFMW), dalam sebuah terhadap 3.000 pembantu rumah tangga, sekitar 43 persen dari responden mengatakan bahwa mereka tidak memiliki sendiri dan diminta untuk tidur di tempat-tempat seperti gudang penyimpanan, dapur, toilet, ruang bawah tanah, lemari, dan balkon. Dalam satu kasus, seorang pekerja rumah tangga harus tidur di lubang kecil di atas lemari es dan oven microwave, sedangkan pekerja yang lain terpaksa tidur di tempat sampah.

Sementara, dari 57 persen pekerja rumah tangga yang disurvei dengan kamar mereka sendiri, sepertiga mengatakan tempat mereka juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tempat cuci pakaian, atau studi atau ruang untuk hewan peliharaan. Adapun empat belas persen dari 3.000 responden mengatakan bahwa mereka tidak memiliki akses ke toilet.

Para pembantu rumah tangga mengatakan bahwa mereka tidak punya pilihan selain menerima kondisinya. Seperti apa yang dikutip oleh MFMW, para pembantu rumah tangga ini setuju diperlakukan demikian karena mereka membutuhkan uang. Jika tidak setuju, mereka akan dikirim kembali ke agen atau pulang ke rumah (negara) mereka.

“Sangat mengerikan ketika kami melakukan survei ini pada pekerja rumah tangga. Ini adalah perbudakan zaman ,” kata pemimpin peneliti, Norman Uy Carnay, kepada Thomson Reuters Foundation. “Sebagian besar akomodasi ini bahkan tidak mendekati kesopanan dasar manusia. Hong Kong adalah kota kelas dunia, namun mereka memiliki perlakuan seperti ini terhadap pekerja rumah tangga migran mereka.”

Carnay pun mendesak agar Hong Kong melarang pembantu ditempatkan di akomodasi yang tidak sesuai dan menghapuskan peraturan yang mewajibkan pelayan rumah tinggal dengan majikan mereka. Saat ini, peraturan hanya mengatakan bahwa atasan tidak boleh memaksa pelayan tidur di tempat tidur di koridor dengan sedikit privasi, atau berbagi kamar dengan orang dewasa yang tidak sejenis.

Sementara itu, dalam sebuah email ke Thomson Reuters Foundation, Departemen Hong Kong mendesak pelayan untuk mengajukan keluhan dan mengatakan bahwa dapat diberi sanksi jika mereka gagal memberikan akomodasi yang sesuai. Meski pekerja rumah tangga umumnya memiliki perlindungan yang lebih baik di Hong Kong, penganiayaan telah mendapat sorotan sejak kasus Erwiana Sulistyaningsih, pembantu asal Indonesia, yang dipukuli majikannya dan disiram dengan air mendidih pada tahun 2014 lalu.