Suku Bunga The Fed Diharapkan Naik, Rupiah Berbalik Melemah

rupiah melemah

Ekspektasi kenaikan suku (fed fund rate/FFR) yang tetap tinggi mampu mengangkat nilai tukar dolar AS sehingga membuat rupiah harus berbalik melemah pada penutupan Senin (8/1) ini. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata Garuda menyelesaikan transaksi dengan pelemahan sebesar 13 poin atau 0,10% ke level Rp13.429 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah berakhir naik tipis 6 poin atau 0,04% di posisi Rp13.416 per dolar AS pada penutupan dagang Jumat (5/1) lalu. Tren positif mata uang NKRI berlanjut tadi pagi dengan dibuka menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp13.406 per dolar AS. Sayangnya, rupiah gagal mempertahankan laju di zona hijau hingga penutupan transaksi.

Sementara itu, dari pasar , indeks dolar AS menapak ke level yang lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama, setelah laporan nonfarm payroll yang mengecewakan tidak melunturkan ekspektasi kenaikan The Fed. Mata uang Paman Sam tersebut terpantau menguat 0,075 poin atau 0,08% ke level 92,024 pada pukul 10.44 WIB.

Reuters memberitakan, nonfarm payroll AS yang dirilis Jumat kemarin menunjukkan peningkatan hanya sebesar 148.000 pekerjaan pada bulan Desember 2017, lebih kecil dari bulan sebelumnya yang sebesar 252.000 dan prediksi ekonom yang mencapai 190.000. Awalnya, greenback sempat loyo, namun berhasil memulihkan penguatan pada akhir dagang Jumat.

Meski data nonfarm payroll AS mengecewakan, namun investor tetap berspekulasi bahwa Federal Reserve akan meningkatkan tingkat suku bunga acuan mereka sebanyak dua kali pada tahun ini, termasuk kenaikan pada pertemuan kebijakan bulan Maret mendatang. Komentar beberapa pejabat The Fed di akhir pekan juga menyarankan agar sentral tersebut tetap berada di jalur menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Presiden Fed San Francisco, John Williams, mengatakan bahwa The Fed harus menaikkan suku bunga tiga kali tahun ini mengingat ekonomi yang sudah kuat akan mendapat dorongan dari pemotongan . Sementara, Presiden Fed Cleveland, Loretta Mester, mengucapkan bahwa dia memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar empat kali tahun ini, karena pertumbuhan ekonomi AS meningkat dan tingkat pengangguran tetap rendah.

“Tren penjualan dolar AS akhir-akhir ini memang mengambil jeda,” ujar analis pasar global senior Sumitomo Mitsui Banking Corporation di Singapura, Satoshi Okagawa. “Mata uang tersebut mendapatkan beberapa dukungan setelah hasil imbal hasil Treasury AS meningkat lebih tinggi pada perdagangan akhir pekan lalu.”

Loading...