BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Berakhir Negatif

Dolar - www.liputan6.comDolar - www.liputan6.com

JAKARTA – Setelah mampu rebound di pagi hari, rupiah ternyata harus berbalik terkapar di zona merah pada Kamis (16/7) sore, menyusul keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) yang memangkas suku bunga acuan. Menurut laporan Index pada pukul 14.57 WIB, Garuda ditutup melemah 37 poin atau 0,26% ke level Rp14.625 per AS.

RDG BI yang berlangsung selama dua hari sejak kemarin (15/7) memutuskan untuk memangkas suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4%. Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, keputusan tersebut dianggap sejalan dengan konsistensi menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan di masa pandemi COVID-19.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.632 per dolar AS, terdepresiasi 16 poin atau 0,11% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.616 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang berada di zona merah, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,40% dialami baht Thailand.

Dari , indeks dolar AS mendapat dukungan pada hari Kamis karena ketegangan AS-China yang makin mendidih serta data konsumsi Tiongkok yang lemah menekan kepercayaan investor pada pemulihan ekonomi yang cukup cepat dari krisis coronavirus. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,064 poin atau 0,07% ke level 96,145 pada pukul 14.34 WIB.

Dilansir Reuters, pertumbuhan ekonomi China sebesar 3,2% pada kuartal terakhir memang dengan mudah mengalahkan ekspektasi pasar sebesar 2,5%. Namun, penurunan tak terduga dalam penjualan ritel, untuk bulan kelima berturut-turut, adalah pertanda yang tidak diharapkan dari masalah yang mungkin terjadi di seluruh dunia karena lebih banyak negara mengendurkan lockdown dan memungkinkan bisnis untuk dibuka kembali.

“Meskipun secara umum adil untuk mengatakan bahwa angka-angka tersebut melampaui ekspektasi, tetapi juga mengungkapkan bahwa kita melihat konsumen China tetap tertinggal,” kata analis National Australia Bank FX, Rodrigo Catril, di Sydney. “Kehati-hatian itu adalah sesuatu yang dilihat pasar di negara dengan konsumen yang memainkan peran lebih besar, sehingga itu juga relevan untuk AS.”

Loading...