Suku Bunga Asia Turun, Risiko Mata Uang Makin Tinggi?

Suku Bunga Asia Turun - www.freepik.comSuku Bunga Asia Turun - www.freepik.com

MUMBAI/BANGKOK – Merespon kebijakan , sejumlah bank sentral di kawasan juga kompak menurunkan suku bunga acuan mereka. Langkah tersebut menunjukkan keinginan bank sentral untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan dan ketidakpastian ekonomi, khususnya prospek perang AS-China. Meski demikian, risiko pelemahan dan aliran keluar berikutnya masih tetap ada.

Diberitakan Nikkei, Komite Kebijakan Moneter India, komite beranggotakan enam orang yang dipimpin oleh Gubernur Bank India, Shaktikanta Das, menurunkan tingkat repo sebesar 35 basis poin menjadi 5,4%. Angka ini sekarang berada pada level terendah dalam sembilan tahun. Itu pemangkasan keempat kalinya sejak Das menjadi gubernur pada bulan Desember kemarin. Keempat pengurangan telah membawa tingkat suku bunga sebesar 110 basis poin lebih rendah.

Pada briefing media Rabu (7/8) kemarin, Das mengatakan, komite merasa bahwa 50 basis poin adalah ‘terlalu banyak’ dan bahwa 25 basis poin ‘tidak cukup’. Jadi, diputuskan bahwa 35 basis poin adalah ‘level seimbang’ dalam situasi saat ini, mengingat pertumbuhan ekonomi yang melambat ke level terendah dalam lima tahun sebesar 6,8% pada tahun fiskal yang berakhir Maret.

Bank Dunia sebelumnya menurunkan India satu tempat, ke urutan ketujuh, dalam peringkat produk bruto tahun 2018. PDB India kala itu mencapai 2,72 triliun . Turunnya peringkat tersebut merupakan pukulan bagi Perdana Menteri Narendra Modi, yang telah menetapkan target agar India menjadi ekonomi 5 triliun pada tahun 2024.

Bank of Thailand juga mengejutkan para analis, menurunkan tingkat pembelian kembali satu hari menjadi 1,5% dari 1,75%. Sebagian besar pengamat pasar memperkirakan bank akan bertahan. Lima dari tujuh Komite Kebijakan Moneter memilih untuk memotong suku bunga sebesar 0,25%, sementara dua lainnya memilih untuk mempertahankannya.

Sebelumnya, bank sentral setempat menaikkan suku bunga kebijakannya pada Desember 2018 untuk pertama kalinya dalam lebih dari tujuh tahun. Baht telah sejak saat itu, meningkatkan kekhawatiran di antara para eksportir Thailand bahwa daya saing ekspor mereka akan berkurang. Pada bulan Juni, Bank of Thailand menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 menjadi 3,3%, memprediksi pertumbuhan ekspor yang datar.

Pada saat yang hampir bersamaan, Reserve Bank of New Zealand juga menurunkan suku bunga resmi mereka sebesar 50 basis poin ke rekor terendah 1%. Sebelumnya, pada bulan Juli 2019, sudah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, sedangkan bank sentral Australia memilih untuk mempertahankan di level 1%.

Pada akhir bulan kemarin, The Fed telah mengurangi tingkat kebijakan untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Pada tahun 2018, bank-bank sentral di negara-negara berkembang ditekan untuk menjaga kebijakan moneter ketat guna mencegah mata uang mereka jatuh sebagai respons terhadap kenaikan suku bunga Fed sebelumnya. Tetapi, dengan The Fed berbalik dovish, bank sentral lain memiliki lebih banyak ruang untuk bermanuver.

Loading...