Stimulus Fiskal AS Kembali Mandek, Rupiah Berakhir Stagnan

Rupiah menutup perdagangan Senin (12/10) sore di posisi stagnan - www.liputan6.com

JAKARTA – Setelah sempat menguat di pagi hari, kemudian berbalik drop di pertengahan sesi, rupiah akhirnya menutup Senin (12/10) sore di posisi stagnan, ketika pembicaraan paket stimulus bantuan di kembali menemui hambatan. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir di level Rp14.700 per AS, sama seperti sebelumnya.

Sementara itu, data yang dirilis Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.746 per dolar AS, terdepresiasi tipis 9 poin atau 0,06% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.737 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga terpantau turun, dipimpin yuan China yang drop 0,41%.

Menurut analisis CNBC Indonesia, meski PSBB Jakarta cukup longgar, rupiah harus down setidaknya dipengaruhi dua faktor. Pertama adalah mata uang Garuda rentan mengalami koreksi teknikal karena sudah menguat lumayan tajam dalam beberapa sesi. Faktor penghambat lainnya adalah pembahasan stimulus bantuan di AS yang kembali menemui hambatan, yang menjadi sentimen negatif bagi global.

Di sisi lain, indeks dolar AS berjuang mengembalikan keuntungan ketika aset berisiko tergelincir, dipicu negosiasi paket stimulus AS yang mengalami resistensi dan penurunan yuan setelah Bank Sentral China mengambil tindakan yang dipandang bertujuan untuk mengekang kekuatannya. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,027 poin atau 0,03% ke level 93,084 pada pukul 14.58 WIB.

Dilansir dari Reuters, , , akhir pekan kemarin sebenarnya menawarkan paket bantuan virus corona senilai 1,8 triliun dolar AS dalam pembicaraan dengan Ketua DPR AS, Nancy Pelosi. Sayangnya, tawaran Trump menuai kritik dari beberapa Senat Partai Republik. Banyak dari mereka yang merasa tidak nyaman dengan utang negara yang terus meningkat dan khawatir kesepakatan itu akan merugikan dukungan Partai Republik dalam pemilu yang akan datang.

Namun, dengan pemilihan presiden AS 3 November hanya beberapa minggu lagi, investor bertaruh bahwa utusan Demokrat, Joe Biden, lebih mungkin memenangkan kursi kepresidenan AS dan menawarkan paket yang lebih besar. “Secara keseluruhan, gambaran besarnya tidak banyak berubah,” kata direktur forex di Societe Generale, Kyosuke Suzuki.

Loading...