Menanti Stimulus Corona AS, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah - finrollnews.comRupiah - finrollnews.com

Seperti perdagangan sebelumnya, kembali gagal mempertahankan posisi di area hijau pada Selasa (11/8) sore meski dibuka menguat, di tengah penantian stimulus bantuan virus corona AS. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda melemah 32 poin atau 0,22% ke level Rp14.680 per .

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.728 per dolar AS, menguat 22 poin atau 0,15% dari sesi sebelumnya di level Rp14.750 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, rupiah terpantau turun 62 poin atau 0,43% ke posisi Rp14.710 per dolar AS.

Dari pasar , indeks dolar AS berjuang mempertahankan kenaikan yang dicapai pada akhir pekan, ketika investor masih mengharapkan kesepakatan stimulus di Washington, sedangkan imbal hasil AS rebound dari posisi terendah multi-bulan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,060 poin atau 0,06% ke level 93,642 pada pukul 14.04 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, para pemimpin Kongres AS dan pejabat administrasi Presiden mengatakan pada hari Senin (10/8) kemarin bahwa mereka siap untuk melanjutkan negosiasi tentang kesepakatan bantuan virus corona. Meski demikian, belum jelas apakah Demokrat dan Republik akan dapat menjembatani perbedaan mereka.

“Dibandingkan dengan konsensus pasar dari kesepakatan stimulus senilai 1 triliun hingga 1,5 triliun dolar AS, dorongan dari langkah-langkah yang diumumkan jelas akan lebih kecil,” kata kepala suku bunga Jepang dan riset FX di JPMorgan, Takafumi Yamawaki. “Namun, melihat reaksi pasar, investor tampaknya berpikir bahwa pada akhirnya akan ada semacam kesepakatan.”

Pasar juga mengawasi hubungan Washington dan Beijing yang memburuk dengan cepat. China baru saja menjatuhkan sanksi pada 11 warga AS, termasuk anggota parlemen Republik, menyusul sanksi Washington terhadap pejabat Hong Kong dan China. Sementara, Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan bahwa China dan negara lain yang tidak mematuhi standar akuntansi akan dihapus dari daftar bursa AS pada akhir 2021.

Loading...