Spekulasi Kenaikan Suku Bunga AS Tekan Kurs Ringgit

KUALA LUMPUR – Ringgit diperdagangkan lebih rendah terhadap AS pada (25/11) usai the greenback terus melaju imbas ekspektasi kenaikan bulan depan. Meski mampu dibuka menguat ke level 4,459 per dolar AS, mata uang Malaysia tersebut berbalik 0,0076 poin atau 0,17% ke posisi 4,4678 per dolar AS pada pukul 12.54 waktu setempat.

Kurs ringgit telah jatuh setelah kemenangan mengejutkan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden AS tanggal 8 November lalu. Pada Kamis (24/11) kemarin, dolar AS naik sebanyak 6,5% terhadap mata uang Negeri Jiran ke posisi 4,4630, sekaligus kenaikan tertinggi sejak September 2015. Meski demikian, sejumlah analis tidak terlalu khawatir dengan penurunan nilai tukar ringgit.

“Posisi akun saat ini masih sangat nyaman,” kata Kepala UBS Asia Pasifik, Tan Min Lan. “Dibandingkan berkembang lainnya, semisal Turki, Afrika Selatan, Brasil, atau Rusia, Malaysia sebenarnya memiliki pondasi domestik yang cukup baik.”

Namun, berbeda dengan optimisme UBS, analis lainnya lebih bearish. “Posisi ringgit ini mungkin jauh lebih aman yang sebenarnya bisa lebih terpukul lagi. Ringgit bisa saja terperosok hingga level 4,85 per dolar AS pada akhir tahun 2017,” kata analis National Australia Bank (NAB), Julian Wee.

NAB khawatir atas peringatan bank sentral Malaysia untuk bank asing agar membatasi non-deliverable forwards (NDFs). “Upaya bank sentral Malaysia untuk menggunakan pendekatan moral guna mendukung mata uangnya bisa menjadi bumerang, meningkatkan tekanan pada ringgit, dan berpotensi mengurangi pertumbuhan,” tulis NAB.

Loading...