Sikap China terhadap Obligasi AS ‘Hantui’ Dolar, Rupiah Berakhir Menguat

mampu menutup Kamis (11/1) ini di teritori positif usai pergerakan terus dibayangi oleh kekhawatiran pengurangan pembelian pemerintah AS oleh China. Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI mengakhiri hari ini dengan penguatan sebesar 25 poin atau 0,19% ke level Rp13.400 per AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup menguat 13 poin atau 0,10% di posisi Rp13.425 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (10/1) kemarin. Mata uang Garuda memang sempat berbalik ke zona merah dengan melemah 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.431 per dolar AS saat membuka pasar. Namun, spot mampu bangkit sehingga ditutup di teritori hijau pada akhir transaksi.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.427 per dolar AS, mengalami kenaikan sebesar 22 poin atau 0,16% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.449 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,38% dialami ringgit Malaysia, disusul baht Thailand yang naik 0,29%.

Dari pasar , indeks dolar AS sebenarnya mampu bergerak di zona hijau pada perdagangan Kamis setelah komentar regulator devisa China mengurangi kekhawatiran bahwa Negeri Tirai Bambu akan mengurangi pembelian obligasi pemerintah AS. Mata uang Paman Sam tersebut terpantau menguat 0,072 poin atau 0,08% ke level 92,404 pada pukul 11.14 WIB terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

Reuters mengabarkan, regulator valuta asing China baru-baru ini mengatakan bahwa negara tersebut mempertimbangkan untuk memperlambat atau menghentikan pembelian obligasi Treasury AS. Imbal hasil obligasi AS pun menguat ke level tertinggi dalam sepuluh bulan, sedangkan greenback bergerak turun setelah laporan tersebut diterbitkan. Namun, setelah komentar seorang regulator, dolar AS kembali mendapatkan sokongan.

“Meski China dapat melakukan penyesuaian terhadap kepemilikan cadangan devisa mereka, tetapi tampaknya tidak mungkin bahwa negara tersebut akan berhenti membeli obligasi AS,” papar kepala perdagangan untuk OANDA di Singapura, Stephen Innes. “Namun, ketidakpastian mengenai sikap China tersebut berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset berisiko.”

Loading...