Shock Brexit Mulai Ditinggalkan, Kurs Mata Uang ASEAN Kompak Menguat

Dampak negatif dari terhadap global ternyata tidak seburuk yang diperkirakan sebelumnya. Ini membuat mata uang safe haven seperti AS dan yen Jepang mulai ditinggalkan sehingga membuat sejumlah mata uang ASEAN merangkak naik.

Dari dalam negeri, meski rupiah pada perdagangan hari ini (29/6) dibuka dengan pelemahan tipis 11 poin atau 0,08% ke Rp13.199 per dolar AS, namun mata uang Garuda berbalik naik 43 poin atau 0,33% ke level Rp13.145 per dolar AS pada pukul 08.55 WIB. Sementara itu, menetapkan di level Rp13.166, 90 poin atau 0,67% dibanding hari sebelumnya.

Menurut laporan Bloomberg Index, pada siang hari pukul 13.38 WIB, kurs ringgit Malaysia juga terpantau menguat 0,0266 atau 0,65% ke level 4,0507 per dolar AS meski sebelumnya dibuka melemah di posisi 4,0747 per dolar AS. Di waktu yang sama, peso Filipina juga bergerak naik 0,035 poin atau 0,07% ke level 46,979 per dolar AS setelah sebelumnya dibuka dengan penguatan di posisi 46,965 per dolar AS.

Penguatan juga ditunjukkan dolar Singapura dengan kenaikan sebesar 0,0016 poin atau 0,12% ke level 1,3519 per dolar AS usai dibuka di level 1,3535 per dolar AS. Hanya baht yang terpantau melemah 0,009 poin atau 0,03% ke level 35,240 per dolar AS usai dibuka di posisi 35,231 per dolar AS.

Selain nilai tukar mata uang, pasar dan sejumlah komoditas juga mulai reli sejak dini hari tadi. Pertumbuhan PDB AS kuartal I 2016 yang direvisi naik tidak berpengaruh terhadap k ekspektasi kenaikan FFR target yang telanjur anjlok. “Shock dari Brexit sepertinya mulai ditinggalkan dan saat ini fokus terhadap peluang kenaikan FFR target yang turun drastis,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta.

Loading...