Serba Digital, Biaya Produksi Film Layar Lebar di Indonesia Ternyata Bisa Sampai Miliaran Rupiah

Produksi Film Layar Lebar - raff29.wordpress.comProduksi Film Layar Lebar - raff29.wordpress.com

Film layar lebar saat ini sudah banyak mengalami perkembangan, meski perfilman di masih belum semaju perfilman Hollywood. Walaupun punya banyak aktor dan aktris berbakat, beberapa biasanya terganjal urusan biaya yang cukup mahal. Bayangkan saja, biaya beberapa judul film layar lebar yang pernah menghiasi bioskop Indonesia kabarnya mencapai miliaran . Cukup mahal bukan?

Beberapa tahun silam, syuting film layar lebar menggunakan media rekam seluloid dalam durasi 4 menit dibutuhkan biaya sekitar Rp 2,5 juta. Tentunya sudah bisa dihitung berapa yang dibutuhkan untuk film berdurasi 90 menit. Ya, biayanya mencapai Rp 56.250.000, belum termasuk scene alternatif yang dibutuhkan untuk alternatif visual, serta biaya lainnya seperti honor pemain, lighting, kru film, hingga .

Oleh sebab itu sutradara film zaman dahulu mungkin sangat ketat dalam pemilihan aktor dan aktris karena kesalahan pengambilan gambar bisa membuat biaya sekian juta rupiah melayang. Namun dengan adanya media digital seperti saat ini yang menawarkan biaya lebih terjangkau dibandingkan media seluloid tentunya bisa menjadi solusi bagi kreator-kreator film baru yang ingin memulai berkarya.

Meski demikian, kemunculan media digital ternyata tidak sepenuhnya menekan biaya produksi film layar lebar. Sebagai contoh, film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! beberapa waktu lalu yang sukses meraup 3 juta penonton hanya dalam waktu 6 hari ternyata membutuhkan biaya produksi mencapai Rp 25 miliar. Biaya tersebut mencakup Rp 10 miliar untuk produksi dan sisanya untuk promosi.

Di Indonesia sendiri urusan budget atau biaya produksi memang menjadi ‘rahasia ’ yang bagi sebagian rumah produksi terlalu tabu untuk diumbar. Menurut Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Kemala Atmojo, biaya produksi film layar lebar biasanya cenderung dirahasiakan karena kemungkinan berkaitan dengan sumber modal pembuatan film.

“Kalau rumah produksi luar, ada banyak pihak yang terlibat sebagai pemodal. Sehingga mereka harus mengumumkan berapa biaya produksi. Sedangkan di Indonesia rumah produksi itu biasanya memakai biaya sendiri tanpa . Dengan begitu mereka tidak punya kewajiban mempublikasi biaya produksi,” kata Kemala.

Sebagian rumah produksi juga diketahui menutupi biaya produksi agar kelak tidak disalahkan apabila merugi. “Perusahaan harus punya rencana dan citra. Kalau terlalu kecil [biayanya] takut dibilang itu film kecil. Kalau terlalu besar tiba-tiba filmnya enggak berhasil takutnya malu juga. Jadi mereka lebih ke strategi building image-nya saja,” kata sutradara Anggy Umbara.

Loading...