September Alami Deflasi, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - www.tangandiatas.comRupiah - www.tangandiatas.com

JAKARTA – Meski dibuka menguat, ternyata harus berbalik ke zona merah pada perdagangan Selasa (1/10) sore ketika Indeks Harga Konsumen (IHK) dalam negeri pada bulan September kemarin dilaporkan mengalami deflasi. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda melemah 21 poin atau 0,15% ke level Rp14.216 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.196 per dolar AS, terdepresiasi 22 poin atau 0,15% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.174 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,17% dialami yen Jepang.

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan September 2019 yang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,27%. Dari 82 di Indonesia, terdapat 70 yang mengalami deflasi, sedangkan sisanya mengalami inflasi. Dengan demikian, ini menjadi deflasi pertama setelah bulan Februari lalu.

“Deflasi disebabkan kelompok pengeluaran bahan yang mencatatkan deflasi sebesar 1,7% dan memberi andil deflasi September sebesar 0,44%,” papar Kepala BPS, Suhariyato, kepada pers. “Realisasi ini menjadikan inflasi tahun kalender mencapai 2,2% hingga September kemarin. Kemudian, deflasi ini juga lebih dalam dibanding dari September tahun lalu yang mencatat deflasi 0,18%.”

Meski demikian, lanjut Suhariyanto, deflasi ini tertahan oleh inflasi di kelompok sandang, utamanya karena kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,72% dan memberi andil inflasi 0,05% di September. Harga beras pun menyumbang inflasi, namun pemerintah sudah memastikan stok beras tetap aman. “Bisa kami simpulkan bahwa inflasi masih terkendali,” tambah Suhariyanto.

Dai pasar , indeks dolar AS diperdagangkan di zona hijau sebelum rilis data yang diperkirakan akan menunjukkan sektor manufaktur AS kembali ke pertumbuhan, meredakan kekhawatiran tentang dampak dari perang perdagangan AS-China. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,160 poin atau 0,16% ke level 99,537 pada pukul 13.46 WIB.

“Data ekonomi dapat mendukung dolar AS, dan komentar tidak sesederhana yang dipikirkan beberapa orang,” kata kepala strategi mata uang di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto, dilansir Reuters. “Penurunan Reserve Bank of Australia dan risiko ekonomi Eropa yang stagnan juga positif untuk greenback.”

Loading...