Sentimen The Fed Sokong Dolar, Rupiah Ditutup Melemah 22 Poin

kembali harus berbalik arah ke zona merah pada akhir Selasa (12/12) ini ketika sentimen pertemuan Federal Reserve mampu mengatrol AS. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI harus menyelesaikan hari ini dengan pelemahan sebesar 22 poin atau 0,16% ke level Rp13.574 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01% di posisi Rp13.552 per dolar AS pada akhir dagang Senin (11/12) kemarin. Kemudian, mata uang Garuda sempat rebound 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.551 per dolar AS ketika membuka pagi tadi. Sepanjang transaksi hari ini, spot bergulir di kisaran Rp13.546 hingga Rp13.581 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.550 per dolar AS, melemah 4 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.546 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,20% dialami peso Filipina, disusul rupee India yang melorot 0,18%.

Dari pasar , indeks dolar AS terpantau bertahan di level tertinggi dalam dua minggu versus sekeranjang mata uang utama pada hari Selasa, disokong sentimen pertemuan Federal Reserve pada tengah pekan ini. Mata uang Paman Sam tersebut menguat 0,069 poin atau 0,07% ke level 93,935 pada pukul 11.25 WIB, setelah sebelumnya berakhir turun tipis 0,04% di posisi 93,866.

Diberitakan Reuters, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan mereka pada pertemuan yang berakhir Rabu (13/12) waktu setempat dan diprediksi akan memperketat kebijakan lebih lanjut pada tahun depan. Sebagian besar ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan tiga kenaikan suku bunga pada tahun 2018, meski prospek tersebut masih dibayangi laju yang rendah.

“Karena kenaikan suku bunga AS pada minggu ini telah diprediksi oleh pasar, dolar AS pada awalnya bisa melorot setelah pengumuman kebijakan The Fed,” ujar ahli strategi mata uang untuk Western Union Business Solutions di Melbourne, Steven Dooley. “Namun, begitu kesibukan awal volatilitas jangka pendek naik, kita cenderung melihat dolar AS akan melaju lebih kuat lagi.”

Loading...