Sentimen Global Dorong Penguatan Rupiah di Awal Pekan

rupiah menguat

mampu bangkit pada awal Senin (21/8) ini karena didorong oleh sentimen eksternal. Seperti diberitakan Index, mata uang Garuda membuka hari ini dengan menguat 5 poin atau 0,04% di level Rp13.357 per . Kemudian, mata uang Garuda kembali naik 7 poin atau 0,05% ke posisi Rp13.355 per dolar pada pukul08.45 WIB.

“Kondisi geopolitik global yang kembali memanas berpotensi melemahkan pergerakan dolar AS, sehingga rupiah bisa terangkat,” papar Research & Analyst Valbury , Lukman Leong. “Pelaku pasar masih terpengaruh serangan teroris di Spanyol pada akhir pekan lalu, selain rencana Korea Selatan dan AS untuk melakukan latihan militer, yang tentunya bakal dipantau oleh Korea Utara.”

Sementara itu, Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubrata menambahkan bahwa pergerakan nilai rupiah memang memiliki pelang menguat dengan adanya rapat beberapa dunia, salah satunya European Central Bank (ECB). Dikatakan Rully, kemungkinan besar ECB tidak akan melakukan pengetatan dalam waktu dekat.

Di samping itu, pergerakan mata uang juga dapat disokong oleh kenaikan minyak mentah dunia karena adanya laporan penutupan salah satu kilang minyak terbesar di AS. Meski penutupan kilang minyak Executern Bay di Texas itu memang belum dapat dikonfirmasi kebenarannya, namun sentimen ini bakal memanaskan .

Pada perdagangan Senin ini pukul 08.30 WIB, harga minyak WTI kontrak September 2017 naik 0,01 poin atau 0,02% menuju 48,52 dolar AS per barel, setelah ditutup pada level 48,84 dolar AS per barel di perdagangan akhir pekan (18/8) lalu. Adapun minyak Brent kontrak Oktober 2017, justru turun 0,06 poin atau 0,11% menjadi 52,66 dolar AS per barel.

Rully pun memprediksi rupiah pada perdagangan awal pekan ini berpeluang menguat dan bergerak di kisaran Rp13.325 sampai dengan Rp13.375 per dolar AS. Sementara, Lukman meramal mata uang Garuda pada hari ini masih memiliki potensi tertekan dan bergerak di rentang Rp13.350 sampai dengan Rp13.400 per dolar AS.

Loading...