Senin Sore, Rupiah dan Dolar Kompak Memerah

Rupiah dan dolar as kompak melemahRupiah dan dolar as kompak melemah - bisnis.com

JAKARTA – Rupiah gagal merangsek ke teritori hijau pada perdagangan Senin (8/4) sore, meski beringsut turun karena imbal hasil Treasury melorot menyusul pertumbuhan upah pekerja yang melambat. Menurut laporan Index pada pukul 15.49 WIB, Garuda terpantau melemah 35 poin atau 0,25% ke level Rp14.168 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.145 per dolar AS, menguat 13 poin atau 0,09% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.158 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berkutik melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,63% menghampiri won Korea Selatan.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya juga cenderung bergerak lebih rendah pada hari Senin, karena imbal hasil Treasury memperpanjang pelemahan setelah laporan AS menunjukkan pertumbuhan upah yang menurun, bahkan ketika jumlah meningkat. Mata uang Paman Sam terpantau terdepresiasi 0,147 poin atau 0,15% ke level 97,248 pada pukul 15.46 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, pada hari Jumat (5/4) waktu setempat, Biro Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa nonfarm payrolls negara tersebut sepanjang bulan Maret 2019 naik menjadi 196.000, melampaui ekspektasi dan memberikan katalis positif bagi aset berisiko. Namun, kenaikan upah pekerja melambat, dengan rata-rata per jam hanya naik 0,1% setelah bulan sebelumnya melonjak 0,4%.

Akibatnya, imbal hasil Treasury AS langsung tergelincir dan membebani dolar AS karena kenaikan moderat dalam pertumbuhan upah seolah mendukung keputusan untuk menunda kenaikan lebih lanjut tahun ini. Greenback pun langsung beringsut turun setelah sebelumnya sempat naik di akhir pekan.

tidak dapat memotong atau menaikkan suku bunga sehubungan dengan laporan pekerjaan hari Jumat, yang tidak memberikan dolar AS dengan insentif yang menentukan,” kata ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Sementara, pembicaraan perdagangan China-AS tidak akan berakhir dalam waktu dekat dan fokus pasar akan tertuju ke Eropa karena Brexit mendekati tonggak berikutnya pada 12 April.”

Loading...